Sabtu, 23 Desember 2017

Biarkan Emak Jatuh Cinta Lagi



Judul Buku: The Unspoken Love
Penulis: Nurdiana Dixit, dkk (Alumni JA dan Kontributor Emakpintar,asia)
Desainer Cover: Tim Stiletto Indie Book
Layout: Tim Stiletto Indie Book
Proofreader: Tim Stiletto Indie Book
Penerbit: Stiletto Indie Book
Terbit: Maret 2017
ISBN: 978-602-75-72-91-1
Buku antologi cerpen ini adalah  karya para emak alumni JoeraganArtikel dan kontributor Emakpintar.asia. Temanya cukup mengundang rasa penasaran, “Biarkan Emak Jatuh Cinta Lagi.”  



Namanya juga buku antologi, pastilah penulisnya bukan cuma satu penulis. Tidak tanggung-tanggung ada 39 penulisnya, dan kabar kerennya  semua penulisnya adalah perempuan. Mereka berhasil menulis  banyak cerita yang mengaduk-aduk perasaan.  Maka tidaklah berlebihan jika  Indari Mastuti selaku CEO Indscript menanggapi buku ini dengan kata-kata sebagai berikut.

Perempuan Indonesia penuh talenta, buku ini menjadi buktinya. Anda akan dimanjakan dengan kata-kata yang sungguh bernyawa.”

Alhamdulillah, salah satu tulisan yang ada dalam buku ini adalah karyaku yang berjudul “Suami yang Kubutuhkan.” Bercerita tentang seorang isteri yang masih memendam rasa kepada pemuda lain di masa lalunya, lalu akhirnya sadar bahwa suaminya jauh lebih baik dan sebenarnya sangat dia butuhkan. Berikut cuplikannya.

“…. Sore itu, langit mendung, titik-titik hujan mulai turun perlahan. Mulanya hanya setitik demi setitik lalu kemudian turun sangat deras, menggemuruh. Aku berlari menepi mencari tempat berteduh di emperan toko. Seorang lelaki setengah baya memiringkan tubuhnya memberiku tempat untuk ikut berdiri, berteduh. Sekilas aku melirik, tersenyum; “terima kasih, pak”. Kataku.
Dia mengangguk pelan sambil melemparkan senyumannya. Serr…dadaku berdegup kencang.
Apakah dia? Dia yang pernah membuatku menangis berhari-hari, dia yang membuatku pergi dari kotaku sejauh-jauhnya hingga tak ingin lagi menginjak kotaku. Kalau bukan karena ibuku yang selalu menelpon dan mengirimiku salam rindunya maka aku tidak akan berdiri di sini sekarang, di dekat orang yang pernah membuatku menangis ini.
Uh.., dia tidak boleh mengenaliku….”


Penasaran kan? 

Kompetisi Menulis Bangga Menjadi Ibu


Judul Buku: Bangga Menjadi Ibu Part 1
Penulis: Finalis Lomba Menulis #BanggaMenjadiIbu
Desainer Cover: Dindin Rasdi
Layout: Dindin Rasdi
Editor & Proofreader: Chika Ananda
Penerbit: Bitread
Terbit Tahun 2016
Buku ini adalah buku antologi di mana para penulisnya adalah finalis yang terpilih dalam ajang kompetisi menulis, Kompetisi ini diselnggarakan dalam rangka menyambut Hari Ibu tahun 2016. Terdapat 80 orang penulis yang naskahnya lolos dan layak dibukukan. Saya sangat excited karena ini adalah tulisan pertama saya yang berhasil dibukukan.  Mengalahkan ratusan  naskah yang mengikuti kompetisi  tentu saja saya sangat bahagia.



Buku “Bangga Menjadi Ibu” terbagi atas dua part. Part 1 terdiri atas 42  naskah dari 42  penulis. Sedangkan Part 2 terdiri atas 38 orang penulis dengan jumlah tulisan yang sama.
 Tulisan saya masuk  di buku Part 1, dengan judul “Album Foto Usang.”

Sebenarnya ada dua tulisan yang saya kirim dalam kompetisi tersebut, yaitu “Anugrah Terindah” dan “Album Foto Usang”, rupanya tulisan yang menarik tim juri adalah “Album Foto Usang.” 
Kedua tulisan saya itu dapat dibaca di http://emakpintar.org

Berikut cuplikannya.

Hari ini ada yang aneh dengan perasaanku, ada sendu di sudut hati tatkala menatapi album foto usang yang nyaris hangus terbakar. Di dalam album itu, terdapat banyak sekali kenangan. Setiap foto yang tercetak menyiratkan cerita tersendiri.

Seperti foto usang itu, empat wajah putraku berpose di sana. Mereka duduk berderet sesuai urutan usianya. Hm … sendu hatiku bukan karena sedih, tetapi terkenang masa-masa kecil mereka yang bermain bersama tanpa didampingi oleh ibunya. Bukannya tidak pernah, tetapi sangat jarang.

Banyak cerita dalam keseharian mereka yang terlewati. Kesibukanku sebagai ibu yang bekerja di luar rumah yang menjadi penyebabnya. Saya hanya memiliki separuh waktu bersamanya. Mereka tumbuh dan berkembang diantara orang-orang yang silih berganti menemaninya. Barangkali karena itulah, mereka memiliki pribadi yang mandiri, dan gampang beradaptasi.

....




Senin, 18 Desember 2017

TOGA WISUDA

Toga wisuda pada umumnya berwarna hitam, apakah artinya?
Warna hitam adalah melambangkan misteri atau kegelapan, artinya para wisudawan yang telah memakai toga adalah para mahasiswa yang telah berhasil menyibak misteri selama menempuh pendidikannya menuju misteri berikutnya.  Dengan ilmu yang telah diperolehnya akan mampu menyibak lebih banyak lagi misteri-misteri kehidupan  selanjutnya.



Topi toga berbentuk persegi adalah melambangkan bahwa seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional serta memandang segala sesuatu hal dari beraneka sudut pandang.
Seremoni memindahkan  kuncir tali di topi toga  bermakna  memindahkan kuncir tali toga yang semula berada di kiri menjadi ke kanan  yaitu waktu masa kuliah lebih banyak menggunakan otak kiri, diharapkan sesudah lulus tidak hanya   sebatas memakai otak kiri (hardskills) semata, tetapi pula dapat menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan aspek kreativitas, imajinasi, serta inovasi, dan aspek softskills lainnya.

Namun apapun makna dari pakaian toga para sarjana itu yang terpenting adalah mereka harusnya menyadari bahwa dibalik dari semua kesuksesannya  ada orang tua yang bekerja keras tanpa lelah mencurahkan semua perhatiannya, menengahdahkan tangan mereka memohon, menghiba kepada yang Maha Mengatur  agar putra putrinya diberi kemudahan, kelancaran dalam pendidikannya hingga putra putri mereka dapat tersenyum bangga memakai pakaian toga

Prosesi wisuda hanyalah seremonial saja, sesudahnya ada jalan panjang yang harus ditempuh. Masih berupa misteri, gelap segelap pakaian toga. Maka siapapun dia, siapapun kita masih membutuhkan tangan-tangan dari orang tua kita  untuk terus menengadahkan tangannya kepada yang Maha Pemberi , masih sangat membutuhkan doa-doa lirih dari mulut dan hati suci mereka  agar kita diberi kemudahan dalam menyibak kegelapan dari waktu ke waktu.


Kamis, 05 Oktober 2017

FLASH FICTION

PELAJARAN PERTAMA

Seperti pagi ini, saat aku  membuka pintu, tiba-tiba kamu sudah ada di depanku, menatapku penuh harap.
Aku gerah melihatmu maka pintu kututup lagi. Tetapi pintu itu adalah satu-satunya aksesku menuju teras samping. Tidak ada jalan lain, aku harus membukanya. Kutahan saja perasaan gerah ini, karena sekali lagi kamu duduk di depan pintu, bukan saja dengan tatapan harap melainkan sudah berubah menjadi tatapan geram, seakan menyimpan kemarahan.

Duh … apa yang harus kulakukan? Aku sudah memenuhi permintaanmu semalam. Semua sisa-sisa “hartaku” telah kuserahkan kepadamu. Tidak ada lagi yang tersisa.
Dengan mengumpulkan keberanianku, aku melangkah melewatimu. Kulihat matamu semakin tajam dan mulutmu menyeringai seakan siap menerkamku.  Aku membalikkan badan, kucoba membalas tatapanmu. Sejenak kita saling bertatapan, tetapi aku kalah. Mata birumu seakan menembus jantungku.

Bukan karena ngeri namun ada rasa iba yang tak sanggup kutepis. Baiklah, aku harus memenuhi permintaanmu. Terpaksa aku kembali, mengambil sisa-sisa  hartaku yang masih ada di lemari makan.
“Puss … puss …”

Kamu berlari dan menyambutku  dengan senyum manismu. 

****************

PELAJARAN KEDUA

Hampir saja aku terjerembab ke lantai saat serombongan anak-anak berlari menyeruduk punggungku.
“Heii … ada apa?” Teriakku kaget.
“Orang gila Bu!” Salah seorang anak membalas teriakanku, larinya semakin kencang. Aku menoleh ke arah belakang anak-anak itu. Kulihat di sana seorang laki-laki berperawakan tinggi besar juga berlari sambil mengacung-acungkan sebilah bambu. Bergegas aku meminggirkan badanku ke dinding kelas.
“Hoii … tunggu!” Teriak laki-laki itu dengan muka merah. Saat dia melintas di depanku, dia melirik sekilas sambil senyum seringai kepadaku. Aku merinding melihatnya, di lengan krinya terdapat tato gambar tengkorak menambah seram penampilannya.

Setelah laki-laki itu berlalu, aku mempercepat langkahku menuju kelas untuk mengajar. Dengan nafas tersengal, aku menyapa siswaku yang menatapku cemas.
“Ada apa Ibu, kenapa muka ibu pucat?” Tanya ketua kelas, sehabis menjawab salamku.
“Ada orang gila, tadi memburu anak-anak.” Jawabku dengan nafas mengap-mengap.

Tiba-tiba, pintu kelas diketuk. Ketua kelas berdiri membukakan pintu.
Astaga, mulutku menganga kaget. Di depan pintu berdiri laki-laki bertato yang dipanggil oleh anak-anak itu, orang gila. Darahku rasanya berhenti mengalir. Aku hanya mematung menatapnya nanar.
“Permisi Bu guru, ini bambu pesanan pesanan Bapak kepala sekolah, bolehkah aku menitipnya di sini?”

Astagfirullah, ampunilah hambamu ini yah Allah!

Rabu, 24 Mei 2017

TERIMA KASIH IIDN

Sudah lama tak menyapa “rumahku” ini, berhubung karena kesibukan dan kejar target sana-sini, padahal target itu setiap saat bertambah seiring dengan keegoisan diri.
Apa yang mau kuceritakan yah? Oh iyah tentang IIDN.

Ibu-ibu Doyan Nulis, sebuah komunitas yang saya masuki hampir dua tahun terakhir ini. Padahal usia komunitas ini sudah memasuki usia 7 tahun. Kalau dibandingkan dengan usia manusia, berarti IIDN sudah memasuki usia sekolah dasar. Yah IIDN sudah kelas 1 SD, Yeaaahhh... Itu artinya IIDN sudah semakin “pintar” dan akan semakin banyak mendapatkan ilmu di bangku sekolah.

Padahal IIDN itu sendiri lebih laik disebut sekolah. Sekolah bagi ibu-ibu penghuni komunitas ini. Sekolah yang jauh lebih luas artinya dibandingkan dengan sekolah yang sesungguhnya, terutama sekolah bagi diri saya yang masih fakir ilmu ini.
IIDN, di dalamnya berkumpul ibu-ibu seluruh Indonesia bahkan ibu-ibu seluruh dunia yang memiliki hobbi, minat atau mungkin bakat yang serupa walau tak sama. Ada Ibu yang senang menulis artikel di web tertentu, ada pula yang nyaman menulis di blog dan tidak sedikit yang telah menelurkan buku.

Buku! Yah Buku, inilah benda yang menjadi jejak abadi setiap penulis, walau saat ini pada era komunikasi yang tanpa batas, buku bukanlah satu-satunya yang bisa menyimpan jejak kepenulisan seseorang. Karena tulisan-tulisan di blog juga akan abadi  bahkan lebih bisa dibaca oleh semua orang di seluruh penjuruh dunia.

Kembali ke IIDN, awal saya bergabung ke IIDN Makassar adalah derap langkah saya selanjutnya setelah merasakan nyamannya berada di IIDN pusat atau Ibu-ibu Doyan Nulis – Interaktif. Saya melangkahkan kaki ke kota Makassar, tentu saja  tanpa meninggalkan komunitas induknya, semua itu  karena terdorong asa untuk bersilaturahim dengan ibu-ibu yang sekota dengan saya, agar kami bisa saling berjabat tangan, cipika cipiki atau paling tidak mendengar cerita mereka sambil menatap gerakan bibirnya, ikut tersenyum melihat senyumannya. Masya Allah.
Saya sudah menikmatinya walaupun belum bertemu dengan seluruh penghuninya, tetapi paling tidak sudah pernah saling menyapa dengan yang lainnya terutama Ibu muda yang selalu bersemangat. Ketua IIDN Makassar, Mugniar. Sekaligus saya bermimpi, suatu saat saya juga akan bersenda gurau dengan seluruh penghuni IIDN di seluruh dunia, terutama berpelukan dengan pembuat komunitas ini Indari Mastuti.

Inilah komunitas dari sekian komunitas yang saya masuki, suatu komunitas yang khusus bersentuhan dengan kata “MENULIS.”
Di sinilah saya menemukan dunia yang telah lama saya tinggalkan, di sinilah saya menjumpai ibu-ibu yang luar biasa, bersemangat dan saling support tanpa batas dan tanpa pamrih.
Terima kasih kepada pencetus ide sekaligus pendirinya, seorang Ibu yang telah menginspirasi banyak perempuan Indonesia. Ibu Indari Mastuti.
Terima kasih atas semua yang telah diberikan. Saya yakin dan percaya bahwa setiap noktah yang tertuang baik berupa ide, tips-tips, suntikan-suntikan semangat pastilah tidak sia-sia, karena di Arsy sana Allah swt  sedang “menatap dengan senyum” dan melalui malaikat-Nya, akan mencatatnya sebagai pahala.
Terima kasih IIDN, selamat ulang tahun, semoga semakin berjaya. 


Senin, 02 Januari 2017

KE SEKOLAH LAH, WAHAI ANAKKU!


Hari ini adalah hari pertama ke sekolah setelah "setengah berlibur" beberapa hari, saya katakan setengah berlibur karena kami, guru-guru sesungguhnya tidak libur sepenuhnya. Kami hanya libur mengajar di kelas karena siswa-siswa  kami berlibur atau tidak belajar di kelas tetapi kami masih bekerja, menyelesaikan administrasi guru untuk persiapan mengajar pada semester berikutnya.
Bertemu dengan anak-anak, siswa-siswaku adalah pertemuan yang selalu kurindukan. Memandang mereka seakan memandang masa depan dan bagai  deja vu saya.

Tamu pertama saya di sekolah adalah orang tua siswa yang anaknya bermasalah. Maka terjadilah perbincangan ini.
“Bu..anak saya tidak  mau ke sekolah, dia mau langsung ujian saja” kata si bapak.
 “Maaf pak, prosedur orang bersekolah itu adalah belajar di sekolah” Jawabku.
“Itulah bu, saya sudah paksa anak saya untuk datang ke sekolah” jawabnya lesu.
“Di bujuk pak, kalau sudah dibujuk tidak mau, dikerasi sedikit juga tidak apa-apa”
“Kalau bisa langsung ujian saja bu.., yang penting bisa dapat ijazah” kata si bapak sambil memelas.

Duh…tiba-tiba saya merasa ada “sesuatu” yang menyesakkan dada.
Beberapa kali menangani masalah seperti ini dan beberapa kali pula mendengarkan kata-kata seperti itu dari orang tua siswa. Begitu dangkalkah pandangan mereka tentang pendidikan? Pendidikan atau bersekolah hanya sekedar untuk menadapatkan ijazah?


Wahai anakku..
Sekolah bukan hanya sekedar mendapatkan ijazah, tetapi lebih dari itu. Sekolah akan mengajarkan kalian begitu banyak ilmu yang akan menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang  kita tidak tahu kapan akan berujung.

Wahai anakku..
Sekolah adalah tempat kalian mendapatkan pengalaman hidup yang kelak akan kalian gunakan sebagai senjata memerangi berbagai macam masalah. Karena di sekolah kalian akan bertemu teman-teman dengan berbagai macam karakter dan kalian akan belajar beradaptasi dengan mereka agar kalian bisa diterima sebagai teman, bukankah itu juga sebahagian dari pembelajaran?

Di Sekolah, kalian juga akan berjumpa dengan guru yang hadir sebagai pembawa berita tentang ilmu pengetahuan dan selanjutnya kalian akan mencari lebih banyak dari berita itu yang bisa jadi kalian akan menemukan lebih banyak ilmu pengetahuan dibandingkan gurmu sendiri ketika kalian lebih rajin, lebih tekun mencari sehingga akan lebih banyak mendapatkan ilmu pengetahuan.
Guru-guru kalian juga akan menebarkan kasih sayangnya karena itulah insting seorang guru sebagai pendidik, sehingga kalian akan dididik menjadi pribadi yang baik dan bisa jadi kelak kalian akan lebih baik dari gurumu sendiri apabila kalian lebih tekun, lebih istiqomah  dari gurumu.

Maka datanglah ke sekolah wahai anakku!
Karena sekolah bukan hanya sekedar mendapatkan ijazah. Ijazah hanyalah selembar kertas yang tidak akan berguna jika tidak ada roh di dalamnya. Roh ijazah itu hanya bisa didapatkan jika kita mendapatkan secara berproses. Ijazah hanya dapat berarti jika kita memaknai kahadirannya sebagai bentuk perjuangan yang   keras dengan keringat semangat bahkan dengan air mata kesungguhan dalam mencapainya.







Datanglah ke sekolah wahai anakku!
Seraplah semua pembelajaran kehidupan di sini
Sebagaimana kami orang tua yang sebentar lagi akan berakhir, maka kalianlah yang akan meneruskan generasi manusia. Maka jadilah manusia yang lebih baik dari manusia sebelumnya.
Ijazah itu hanya selembar kertas tetapi jika anakku memperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya maka ijazah itu akan menjadi tanda bukti atas perjuanganmu.


Lalu, tamu kedua pun datang. Seorang bapak, orang tua siswa, masih dengan masalah yang sama. Kembali kami berbincang.
 “Tolong pak, kita bekerja sama, antar anaknya ke sekolah” kata saya berusaha selembut mungkin. (agar keder juga, soalnya si bapak bermuka masam).
“Iya bu, saya sudah paksa anak saya tetapi saya juga tidak tahu kenapa tidak mau ke sekolah” kata si bapak agak kesal.
“Bahkan saya beritahu anak saya bu, andaikan bapak tidak punya pendidikan maka saya tidak sesukses sekarang. Karena saya punya pendidikan makanya saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik”. Sambung si bapak berapi-api.
“Iyah pak, kami tunggu kehadiran anaknya” jawab saya singkat
Agak geregetan juga sama si bapak. Begitukah pendapatnya tentang pendidikan?

Sekedar mendapatkan pekerjaan saja ?
Wahai anakku, pendidikan bukan hanya sekedar mendapatkan pekerjaan semata tetapi lebih dari itu.
Ketahuilah wahai anakku,  belajar, mencari pengetahuan itu adalah perintah Allah SWT.
Sebagaimana yang tertera dalam Alqur’an surat Al-‘Alaq: ayat 1-3
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
(1)  Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan

   خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
(2)  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
       
       اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ
(3)  Bacalah, dan tuhanmulah yang Mahamulia
 Membaca adalah manifestasi dari belajar, maka belajarlah anakku dengan membaca, datanglah ke sekolah sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan.
Apakah kamu akan mendapatkan penghargaan setelah menyelesaikan pendidikanmu?
Pasti! Karena itulah janji Allah dalam surat Al-Mujadilah ayat 1:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ............
”......Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.”
Ke sekolahlah wahai anakku, raihlah pendidikanmu agar kelak kalian akan mendapatkan kesempurnaan hidup sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara
 “Pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya’
Selamat datang murid-muridku tersayang!

Di sini, kami menunggumu!

Minggu, 01 Januari 2017

HARU BIRU TAHUN 2016


Tahun 2016 baru saja berlalu menurut penanggalan Miladiyah.
Begitu banyak peristiwa yang terjadi dari hari ke hari. Tahun 2016 ini adalah hari yang penuh kebahagiaan tahun memetik hikmah atas peristiwa duka diakhir tahun 2015. Karena tahun 2015 bagiku adalah tahun yang penuh sensasi. Tahun dimana saya dianugerahi nikmat yang luar biasa, penuh dengan berkah Allah SWT sekaligus sebagai tahun  yang sarat dengan cobaan dan ujian.
Saya tidak menangis apalagi meraung, saya terdiam. Sepertinya bersabar. Namun saat itulah saya merasakan kekosongan jiwa. Tidak punya impian, Semua rutinitas berjalan biasa, berusaha melakoni aktifitas dengan baik namun hampa.
Maka hari ini, 1 Januari 2017, saya akan menuliskan kenangan-kenangan yang tidak kalah sensasinya di tahun 2016. Perjalanan kehidupan ibarat kaleidoskop atau bisa juga disebut refleksi diri.
 
Menata Puing-puing.

Januari 2016, saya kembali ke rumah. Rumah yang telah runtuh akibat peristiwa kebakaran. Api yang telah melalap habis rumah dan seluruh isinya. Saya berharap inilah yang pertama dan terakhir.
Memasuki rumah yang penuh kenangan ini terasa ada sedikit luka, luka itu tidak terlalu besar tipis saja sayatannya tetapi perih bagaikan sayatan silet. Hampir setiap hari saya merasakan sayatan-sayatan itu. Perihnya terasa setiap kali berada di tempat tertentu dan terasa setiap melakukan aktivitas-aktivitas  tertentu. Misalnya, sedang memasak maka luka sayatan itu muncul tanpa direncanakan, mendapati ruang dapur yang kosong  tanpa peralatan dapur. Yang tidak kalah perihnya adalah ketika mau membaca, buku-buku yang saya kumpulkan bertahun-tahun silam juga telah musnah. 

Namun, perlahan-lahan saya dan keluarga mulai menata kehidupan, mencoba menerima situasi yang serba kekurangan itu.  Hubungan dan kasih sayang diantara anak-anak saya semakin terjalin indah, terlihat dari keikhlasan mereka untuk saling berbagi pakaian. Jika si sulung akan keluar rumah maka si adik merelakan pakaiannya dipakai oleh si kakak demikian pula si sulung. Satu celana dipakai berarma-ramai, hehehe…yes mereka semakin saling memahami.
Hikmah lain dari musibah itu adalah kedua anakku yang kebetulan telah menyelesaikan pendidikannya menjadi semakin bersemangat mencari pekerjaan. Awalnya mereka berencana melanjutkan pendidikan ke S2 karena melihat kondisi keuangan orang tuanya akhirnya memutuskan untuk menunda cita-cita mereka.
“Saya mau cari pekerjaan dulu ma..untuk membantu keluarga, doakan ya ma..” kata si sulung dengan mantap.
“Saya juga, doakan saya juga ma..” kata si adik.
Subhanallah..alhamdulillah, mereka benar-benar telah dewasa. Niat mereka untuk membantu keluarganya membuatku terharu sekaligus bangga.
Mama pasti mendoakanmu nak!

Tahukah kalian? Di sepertiga malam, setiap selesai bersujud kepada Ilahi, mama mendatangimu, mengusap kepalamu sambil berbisik dalam hati, “mama takut meminta kekayaan kepada Allah atas dirimu, mama hanya meminta, cukuplah kamu menjadi anak yang sholeh, urusan kekayaan dan kesuksesan biarkan Allah yang mengatur hidupmu”.

Allah azza wajallah tidak pernah tidur! Sulungku mendapatkan pekerjaan yang menurutnya itu sangat sesuai passionnya, sesuai pula dengan pendidikannya, Alhamdulillah, saatnya si sulung memasuki dunia baru lagi, dunia pekerjaan yang pasti lebih dinamis. Ketika dia pamit ke Bandung, tempat tugasnya, saya hanya berpesan, “hati-hati, jaga sholatmu, jaga ibadahmu, jaga hatimu!
Beruntun mendapatkan anugrah dari-Nya, si adik juga mendapatkan pekerjaan yang diharapkannya. Masih dengan pesan yang sama sebelum memasuki dunia yang lebih “keras”. Hati-hati, jaga sholatmu, jaga ibadahmu, jaga hatimu!



Februari di Pulau Lakkang

Ada satu kegiatan yang sangat mengasyikkan di bulan Februari 2016. Kegiatan muridku, yaitu kegiatan Hizbulwathan, suatu kegiatan kepanduan Muhammadiyah yang dilaksanakan di suatu pulau di tengah-tengah kota Makassar. Pulau Lakkang. Pulau ini adalah kelurahan dan pulau di kecamatana Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Sekalipun saya asli penduduk Makassar, tetapi baru kali itulah saya menginjakkan kaki di pulau itu. Sangat indah dengan luas  1,65 km2, jumlah penduduk kurang lebih 976 jiwa dengan ramah menyambut kami, menyambut semua peserta kegiatan kepanduan itu. (suatu saat saya akan menulis tentang pulau ini).
Sungguh bahagia rasanya bersama anak-anak yang bersemangat, berlomba, berkreasi, bergembira. Mereka  saling memamerkan ketangkasannya mendirikan kemah, memamerkan kepandaiannya memasak, memamerkan kelincahannya menari, menyanyi. Wow…luar biasa! Maka bahagia itu memang sederhana.













Titik Balik di Bulan September

Di bulan ini, untuk pertama kalinya mengikuti training online, training ini adalah hadiah atas kemenangan saya dalam suatu lomba menulis puisi yang dilaksanakan oleh grup Tips Nulis dan Bisnis. Puisi itu sebenarnya saya adaptasi dari puisi saya sebelumnya, karena harus bertemakan lomba maka berubahlah beberapa kata-katanya.
Dari puisi ini.
Perlahan tapi pasti…
Mentari menukik ke ujung barat
Tersenyum malu melambaikan tangan
Seakan mengisyaratkan seribu tanya
Akankah kita bertemu esok
Karena bisa jadi malampun tak akan bersua

Perlahan tapi pasti..
Ingatan muncul pada senyum manismu
Terasa indah
Menari-nari di pelupuk mata
Melambai-lambai mesrah

Perlahan tapi pasti..
Mata nakal mulai melirik
Pada ajakan manjamu
Bermesraan di taman kasih

Inginnya hati merengkuhmu
Namun jiwa menahan
Pelan-pelan saja…
Wahai diri

Pupuk saja kesabaranmu
Lalu teruslah berjuang tanpa lelah
Karena…
Perlahan tapi pasti….
Maka kepastian cintamu akan berlabuh

Menjadi seperti ini.
Perlahan tapi pasti…
Mentari menukik ke ujung barat
Tersenyum malu melambaikan tangan
Seakan mengisyaratkan seribu tanya
Akankah kita bertemu esok
Karena bisa jadi malampun tak akan bersua
Perlahan tapi pasti..
Ingatan muncul pada Grup tips Nulis dan Bisnis 13
Tulisan indah penuh  inspirasi
Kata-kata manis penyemangat jiwa
Menari-nari di pelupuk mata
Melambai-lambai menarik masuk ke indscrip  Training Center
Perlahan tapi pasti…
Mata tertuju pada TOD: bagaimana membisniskan tulisan
Namun hati menahan karena segumpal benak.
Berbisik lirih mengajak ke Sekolah Perempuan
Perlahan tapi pasti..
Mata nakal mulai melirik
pada ajakan manja dari sang mentor
untuk melabuhkan hati pada Heart Selling

Inginnya menapakkan hati pada semua training itu
Namun jiwa menahan sambil tersenyum simpul
Pelan-pelan saja…
Satu persatu wahai ibu

Pupuk saja semangatmu
Lalu teruslah berjuang tanpa lelah
Karena…
Perlahan tapi pasti…
Asal bersama Indscrip Training Center
Maka kepastian citamu akan tercapai

Inilah titik balik kebangkitan saya dalam kepenulisan.  Mengikuti training online yang dimentoring Indari Mastuti, membuka cakrawala berpikir saya tentang menulis yang baik. Lalu terciptalah tulisan-tulisan inspiratif yang menjadi bahan pelatihan menulis saya.

Saya semakin “haus” dengan ilmu menulis karenanya saya meminta bergabung ke  berbagai grup menulis. Salah satunya adalah grup  IIDN Makassar yang digawangi seorang ibu muda yang luar biasa. Ibu Mugniar. Melalui beliau saya mengenal berbagai komunitas blogger.
Saya mulai lagi belajar ngeblog. Karena saya memang bukanlah blogger yang handal, saya masih dalam taraf belajar. Tulisan-tulisan hasil training itu saya posting di blog.

Awal bulan Nopember, saya memenuhi lagi perasaan “haus” saya dengan mengikuti sekolah tentang menulis. Sekolah Perempuan, sekolah yang mengajarkan tentang berbagai ilmu yang berhubungan dengan menulis dan masih berlangsung sampai hari ini. Sangat feel incredible, (sok-sok bahasa Inggris, hehehe..) semangat belajar saya bangkit bagaikan mendapatkan amunisi baru dalam kehidupan saya.  Dengan percaya diri, saya memutuskan bahwa, menulis telah menguraikan kesedihanku menjadi simpul-simpul kebahagiaan.

Kemenangan di Bulan Nopember

Mengikuti lomba menulis kisah inspiratif adalah kegiatan yang pertama kali saya ikuti di tahun 2016. Ini adalah lomba menulis ke-dua yang saya ikuti. Yah..karena beberapa puluh tahun silam, waktu saya masih SMP pernah juga mengikuti lomba menulis dan berhasil meraih juara tiga. Tetapi lomba yang saya ikuti kali ini, sangat berbeda dengan lomba yang saya ikuti puluhan tahun lalu itu. Jelaslah sangat berbeda, karena waktu itu, tulisan tangan yang baik dan indah menjadi bagian penilaian. (hihihi..lucu juga mengingat masa itu).

Lomba menulis kisah inspiratif dengan tema “Bangga Jadi Ibu” yang akan diumumkan pada bulan Desember 2016. Awalnya saya ragu mengikuti lomba itu, karena pesertanya adalah ibu-ibu seluruh Indonesia yang beberapa diantaranya adalah ibu-ibu yang sudah berpengalaman dalam dunia menulis.
Bismilllah, saya percaya diri saja mengikutinya. Saya lalu mencoba menuliskan kisah saya sebagai ibu dengan empat orang putra dan seorang putri. Tulisan itu saya beri judul  “Anugerah Terindah”.  Saking bersemangatnya saya menuliskan lagi kisah saya  yang terinspirasi dari album foto yang saya temukan, tulisan itu saya beri   judul “Album Foto Usang”.

Taraa…”Album Foto Usang” masuk dalam 99 finalis penulis antologi “Bangga Jadi Ibu”. Subhanallah. Alhamdulillah, kabar yang sangat membahagiakan. Walaupun tulisan itu tidak juara tetapi saya merasa sudah menang, mengalahkan ketidak percayaan diriku.

Mengharu biru di bulan Desember.

Aksi damai 212 adalah peristiwa di Indonesia yang mengharu biru perasaan saya. Melihat saudara-saudara muslim saya melakukan aksi super damai walaupun hanya melalui tayangan di televisi, melihat foto-foto postingan di media sosial telah memekarkan lagi perasaan cinta saya terhadap agama saya. Cinta yang selalu saya pelihara di hati dan senantiasa berusaha memupuk, menyemai dan menyiraminya.  Hari itu, tanggal 2 Desember 2016, terasa cintaku berkobar luar biasa. Dua dari lima anakku yang ikut aksi damai 212 itu mengirimkan  foto-fotonya. Alhamdulillah, sekalipun mama tidak bisa ikut tetapi kalian telah mewakili mama. Terima kasih anak-anakku, mari kita menanamkan cinta kepada agama kita dan menyebarkan kedamaian kepada seluruh makhluk di bumi ini.

Selalu, bulan Desember adalah bulan yang istimewa buat saya, karena di bulan inilah saya terlahir 52 tahun silam, tepatnya pada tanggal 11 Desember.  Tanpa direncanakan sebelumnya, saya bersama suami mengunjungi Yogyakarta tepat di hari ulang tahun saya itu. Inilah kali pertama kami berwisata bersama. Seakan-akan kami merayakan ulang tahun saya di Yogyakarta, padahal sesungguhnya hanya kebetulan saja.
Berwisata bersama suami di pegunungan Dieng yang indah, sejuk sesejuk perasaan kami. Lalu mengunjungi Telaga Warna bagaikan memantulkan warna warni kehidupan keluarga kami. Subhanallah. Semoga cinta kami semakin dikuatkan.
Inilah akhir  yang indah di tahun 2016.