Kamis, 05 Oktober 2017

FLASH FICTION

PELAJARAN PERTAMA

Seperti pagi ini, saat aku  membuka pintu, tiba-tiba kamu sudah ada di depanku, menatapku penuh harap.
Aku gerah melihatmu maka pintu kututup lagi. Tetapi pintu itu adalah satu-satunya aksesku menuju teras samping. Tidak ada jalan lain, aku harus membukanya. Kutahan saja perasaan gerah ini, karena sekali lagi kamu duduk di depan pintu, bukan saja dengan tatapan harap melainkan sudah berubah menjadi tatapan geram, seakan menyimpan kemarahan.

Duh … apa yang harus kulakukan? Aku sudah memenuhi permintaanmu semalam. Semua sisa-sisa “hartaku” telah kuserahkan kepadamu. Tidak ada lagi yang tersisa.
Dengan mengumpulkan keberanianku, aku melangkah melewatimu. Kulihat matamu semakin tajam dan mulutmu menyeringai seakan siap menerkamku.  Aku membalikkan badan, kucoba membalas tatapanmu. Sejenak kita saling bertatapan, tetapi aku kalah. Mata birumu seakan menembus jantungku.

Bukan karena ngeri namun ada rasa iba yang tak sanggup kutepis. Baiklah, aku harus memenuhi permintaanmu. Terpaksa aku kembali, mengambil sisa-sisa  hartaku yang masih ada di lemari makan.
“Puss … puss …”

Kamu berlari dan menyambutku  dengan senyum manismu. 

****************

PELAJARAN KEDUA

Hampir saja aku terjerembab ke lantai saat serombongan anak-anak berlari menyeruduk punggungku.
“Heii … ada apa?” Teriakku kaget.
“Orang gila Bu!” Salah seorang anak membalas teriakanku, larinya semakin kencang. Aku menoleh ke arah belakang anak-anak itu. Kulihat di sana seorang laki-laki berperawakan tinggi besar juga berlari sambil mengacung-acungkan sebilah bambu. Bergegas aku meminggirkan badanku ke dinding kelas.
“Hoii … tunggu!” Teriak laki-laki itu dengan muka merah. Saat dia melintas di depanku, dia melirik sekilas sambil senyum seringai kepadaku. Aku merinding melihatnya, di lengan krinya terdapat tato gambar tengkorak menambah seram penampilannya.

Setelah laki-laki itu berlalu, aku mempercepat langkahku menuju kelas untuk mengajar. Dengan nafas tersengal, aku menyapa siswaku yang menatapku cemas.
“Ada apa Ibu, kenapa muka ibu pucat?” Tanya ketua kelas, sehabis menjawab salamku.
“Ada orang gila, tadi memburu anak-anak.” Jawabku dengan nafas mengap-mengap.

Tiba-tiba, pintu kelas diketuk. Ketua kelas berdiri membukakan pintu.
Astaga, mulutku menganga kaget. Di depan pintu berdiri laki-laki bertato yang dipanggil oleh anak-anak itu, orang gila. Darahku rasanya berhenti mengalir. Aku hanya mematung menatapnya nanar.
“Permisi Bu guru, ini bambu pesanan pesanan Bapak kepala sekolah, bolehkah aku menitipnya di sini?”

Astagfirullah, ampunilah hambamu ini yah Allah!

13 komentar:

  1. Wah tak terduga. Keren flash fiction-nya, Kak

    BalasHapus
  2. mantap deh bun... sekilas merinding di paragraf akhir

    BalasHapus
  3. Aduh!
    Memenuhi permintaanmu semalam. Sisa-sisa hartaku telah kuserahkan padamu. Mengembara bebas ma seng otakku eeh ternyata dia si pussy toooh. Kaka deeh. Saya kira cerita 17 tahun ke atas ini. 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jauh dudui khayalan tingkat tinggi itu na...wkwkwk

      Hapus
  4. Hahah... Seruuuu ceritanya bun!
    Kebayang kalo ada orang bertatto pegang parang trus tersenyum menyeringai ke arah kita, pastilah kita takutttt...

    BalasHapus
  5. Itu cerita yang pertama, sakira apa deh... Ternyata kucing, hahaha...

    BalasHapus
  6. Cerita kedua... kalau saya jadi pemeran utamanya saya sudah lari duluan...

    BalasHapus
  7. hhahaa kodong cerita kedua tukang bambuji kodong bukan ji orang gila hihihi penampilan mmg ada pentingnya juga :)

    BalasHapus
  8. Saya klo lihat tampang seram, biar senyumnya kalahkan senyum leonardo, mallajja.

    BalasHapus