Senin, 02 Januari 2017

KE SEKOLAH LAH, WAHAI ANAKKU!


Hari ini adalah hari pertama ke sekolah setelah "setengah berlibur" beberapa hari, saya katakan setengah berlibur karena kami, guru-guru sesungguhnya tidak libur sepenuhnya. Kami hanya libur mengajar di kelas karena siswa-siswa  kami berlibur atau tidak belajar di kelas tetapi kami masih bekerja, menyelesaikan administrasi guru untuk persiapan mengajar pada semester berikutnya.
Bertemu dengan anak-anak, siswa-siswaku adalah pertemuan yang selalu kurindukan. Memandang mereka seakan memandang masa depan dan bagai  deja vu saya.

Tamu pertama saya di sekolah adalah orang tua siswa yang anaknya bermasalah. Maka terjadilah perbincangan ini.
“Bu..anak saya tidak  mau ke sekolah, dia mau langsung ujian saja” kata si bapak.
 “Maaf pak, prosedur orang bersekolah itu adalah belajar di sekolah” Jawabku.
“Itulah bu, saya sudah paksa anak saya untuk datang ke sekolah” jawabnya lesu.
“Di bujuk pak, kalau sudah dibujuk tidak mau, dikerasi sedikit juga tidak apa-apa”
“Kalau bisa langsung ujian saja bu.., yang penting bisa dapat ijazah” kata si bapak sambil memelas.

Duh…tiba-tiba saya merasa ada “sesuatu” yang menyesakkan dada.
Beberapa kali menangani masalah seperti ini dan beberapa kali pula mendengarkan kata-kata seperti itu dari orang tua siswa. Begitu dangkalkah pandangan mereka tentang pendidikan? Pendidikan atau bersekolah hanya sekedar untuk menadapatkan ijazah?


Wahai anakku..
Sekolah bukan hanya sekedar mendapatkan ijazah, tetapi lebih dari itu. Sekolah akan mengajarkan kalian begitu banyak ilmu yang akan menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang  kita tidak tahu kapan akan berujung.

Wahai anakku..
Sekolah adalah tempat kalian mendapatkan pengalaman hidup yang kelak akan kalian gunakan sebagai senjata memerangi berbagai macam masalah. Karena di sekolah kalian akan bertemu teman-teman dengan berbagai macam karakter dan kalian akan belajar beradaptasi dengan mereka agar kalian bisa diterima sebagai teman, bukankah itu juga sebahagian dari pembelajaran?

Di Sekolah, kalian juga akan berjumpa dengan guru yang hadir sebagai pembawa berita tentang ilmu pengetahuan dan selanjutnya kalian akan mencari lebih banyak dari berita itu yang bisa jadi kalian akan menemukan lebih banyak ilmu pengetahuan dibandingkan gurmu sendiri ketika kalian lebih rajin, lebih tekun mencari sehingga akan lebih banyak mendapatkan ilmu pengetahuan.
Guru-guru kalian juga akan menebarkan kasih sayangnya karena itulah insting seorang guru sebagai pendidik, sehingga kalian akan dididik menjadi pribadi yang baik dan bisa jadi kelak kalian akan lebih baik dari gurumu sendiri apabila kalian lebih tekun, lebih istiqomah  dari gurumu.

Maka datanglah ke sekolah wahai anakku!
Karena sekolah bukan hanya sekedar mendapatkan ijazah. Ijazah hanyalah selembar kertas yang tidak akan berguna jika tidak ada roh di dalamnya. Roh ijazah itu hanya bisa didapatkan jika kita mendapatkan secara berproses. Ijazah hanya dapat berarti jika kita memaknai kahadirannya sebagai bentuk perjuangan yang   keras dengan keringat semangat bahkan dengan air mata kesungguhan dalam mencapainya.







Datanglah ke sekolah wahai anakku!
Seraplah semua pembelajaran kehidupan di sini
Sebagaimana kami orang tua yang sebentar lagi akan berakhir, maka kalianlah yang akan meneruskan generasi manusia. Maka jadilah manusia yang lebih baik dari manusia sebelumnya.
Ijazah itu hanya selembar kertas tetapi jika anakku memperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya maka ijazah itu akan menjadi tanda bukti atas perjuanganmu.


Lalu, tamu kedua pun datang. Seorang bapak, orang tua siswa, masih dengan masalah yang sama. Kembali kami berbincang.
 “Tolong pak, kita bekerja sama, antar anaknya ke sekolah” kata saya berusaha selembut mungkin. (agar keder juga, soalnya si bapak bermuka masam).
“Iya bu, saya sudah paksa anak saya tetapi saya juga tidak tahu kenapa tidak mau ke sekolah” kata si bapak agak kesal.
“Bahkan saya beritahu anak saya bu, andaikan bapak tidak punya pendidikan maka saya tidak sesukses sekarang. Karena saya punya pendidikan makanya saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik”. Sambung si bapak berapi-api.
“Iyah pak, kami tunggu kehadiran anaknya” jawab saya singkat
Agak geregetan juga sama si bapak. Begitukah pendapatnya tentang pendidikan?

Sekedar mendapatkan pekerjaan saja ?
Wahai anakku, pendidikan bukan hanya sekedar mendapatkan pekerjaan semata tetapi lebih dari itu.
Ketahuilah wahai anakku,  belajar, mencari pengetahuan itu adalah perintah Allah SWT.
Sebagaimana yang tertera dalam Alqur’an surat Al-‘Alaq: ayat 1-3
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
(1)  Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan

   خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
(2)  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
       
       اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ
(3)  Bacalah, dan tuhanmulah yang Mahamulia
 Membaca adalah manifestasi dari belajar, maka belajarlah anakku dengan membaca, datanglah ke sekolah sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan.
Apakah kamu akan mendapatkan penghargaan setelah menyelesaikan pendidikanmu?
Pasti! Karena itulah janji Allah dalam surat Al-Mujadilah ayat 1:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ............
”......Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.”
Ke sekolahlah wahai anakku, raihlah pendidikanmu agar kelak kalian akan mendapatkan kesempurnaan hidup sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara
 “Pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya’
Selamat datang murid-muridku tersayang!

Di sini, kami menunggumu!

1 komentar:

  1. Iya, yang kita butuhkan adalah proses belajarnya, bukan ijazah..semoga muridnya ngga mogok lagi yaa..

    BalasHapus