Selasa, 01 November 2016

SISI LAIN DARI ACARA "MAPACCING"




Menghadiri satu acara, kadang-kadang niat kita “keluar” dari makna acara tersebut.
Seperti acara mappaccing semalam, bukannya menyaksikan acara  dengan seksama budaya Bugis-Makassar tersebut, sebahagian orang yang hadir malah sibuk memperhatikan tamu-tamu lainnya.

Menelisik satu persatu model bajunya, kerudungnya, perhiasannya lalu dikomentari.
“Eih ..lihat itu si Fulan cantiknya, bajunya mahal” bisik ibu Jeles.
“Wow kerennya!  berapami itu harganya?”timpal ibu Rempong.
“Kau lihat itu  jilbabnya si Bacce, jeleknya itu toh, murahan sekali, seperti yang dipakai ibu yang mau kepasar, hi..hi..hi..” kembali bisik ibu Jeles sambil tertawa cekikikan.

Sementara di dalam ruangan sang calon pengantin didampingi kedua orang tuanya lagi duduk di atas lamming dengan kedua telapak tangan bertumpuh di atas bantal, menghadap ke atas ibarat seorang yang meminta sesuatu atau bisa juga diibaratkan tangan tangadah sedang berdoa. Suara orang yang membacakan barzanji bersahut-sahutan dan ketika terdengar suara yang serempak  kalau dalam bahasa Bugis Makassar, suara serempak itu adalah bacaan Saraka, maka acara mappacing dimulai.

Keluarga terdekat dari calon pengantin dipersilahkan terlebih dahulu maju untuk mappacingi calon pengantin, yaitu prosesi membubuhi telapak tangan calon pengantin dengan daun pacar yang telah dihaluskan lalu dicampur dengan sedikit  air. Alat yang digunakan untuk membubuhi daun pacar tersebut biasanya adalah sedikit daun pisang dibentuk seperti kuas.
Kemudian  disusul oleh orang-orang yang dianggap mumpuni, baik secara ilmu maupun dari segi harta.

Kalau menurut saya acara adat itu lebih mirip dengan budaya Hindustan di India, yaitu acara Mehndi , memberi lukisan di telapak tangan dan kaki yang pembuatannya menggunakan henna.

Tetapi bukan prosesi acara mappaccing itu yang menggelitik hati saya, melainkan celoteh dari sebahagian  para tamu yang datang.

Tanpa mendengarkan suara pelantun barzanji dan menyaksikan proses acara mappcing yang ditayangkan pada slide melalu LCD layaknya menonton layar tancap, mereka malah sibuk celingak celinguk memperhatikan dengan seksama setiap tamu yang datang, Memelototinya dari ujung kaki hingga ujung rambut kalau yang hadir ibu yang berilbab, yah hingga ujung jilbabnya.

Astagfirullah, saya tersentak kaget dicolek oleh ibu yang duduk di sampingku sambil berbisik (bukan berbisik sih) karena suaranya terdengar pula oleh orang yang duduk di belakangku.

“Hei..hei..lihat ibu haji itu, dia itu orang terkaya  dikampung kita, lihat gelangnya, cincinnya…wiiih sungguh mewah”

“Hei kau lihat itu, itu yang pakai baju warna hijau botol” bisiknya lebih keras, kedengaran agak kesal, mungkin karena saya lebih sibuk menonton prosesi mappacing yang ditampilkan di layar.

“Kau lihat itukah?” tanyanya lagi. Suaranya lebih meninggi, sepertinya kalau dia betul betul kesal

“Yang manaaaa?” tanyaku sekedar meredam emosinya.
“Ituuuu, mewah toh perhiasannya?’ jawabnya dengan suara yang sedikit menurun
“Oooo..itu..?” jawabku tanpa menoleh sedikitpun.

Malas juga rasanya berdekatan dengan orang seperti itu. Apa untungnya yah memperhatikan perhiasan orang lain, pakaian  orang lain dan bla..bla..?

Kalau memperhatikan lalu mengeluarkan kata pujian, menurutku tidak mengapa juga sekedar berdecak kagum. Tetapi, menurutku lebih eloknya jika kita berdecak sambil  menyebut asma Allah.

Alhamdulillah, luar biasa yah?  Subhanallah! Allah Maha Kaya, harta orang kaya itu belum seberapa dibanding dengan kekayaan Allah.

Selain memuji, terkadang pula kata-kata celaan keluar dari bibir manis ibu-ibu manakala mendapati tamu  yang kebetulan tidak berpenampilan wah.

Astagfirullah! Bukankah orang-orang yang mencelah, mengejek termasuk orang-orang diperingatkan oleh Allah  sebagai orang yang celaka.


Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Humazah (104:01)  kelak dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah (104: 04). 

Nuzubillah!

2 komentar:

  1. hahah sisi lain dari mappaccing memang akan banyak terlihat Haji-Haji mabbelloo yaaaaa MAM :D tp memang bikin jengkel kalau dapat teman duduk begitu di' haha na ajakki dosa wkwk

    BalasHapus