Sabtu, 12 November 2016

SELAMAT ULANG TAHUN SUAMIKU

Kemarin si suami ulang tahun, sepiii.
Hanya si sulung  yang memberi selamat melalui line, itupun setelah saya masukkan di grup keluarga.

Iseng-iseng saya  sampaikan tentang ulang tahunnya, eh..dianya cuek bebek saja, ngeloyor…
Kata “ulang tahun” dalam keluarga saya memang bukanlah hal yang istimewa, kami terbiasa dengan keadaan itu. Siapapun yang berulang tahun, cukup kami saling bercanda.
“cie..cie..yang ulang tahun, tambah tua dong”. Biasanya yang berulang tahun cemberut saja.

Satu-satunya yang pernah merayakan ulang tahun adalah si bungsu, ketika itu dia berusia 5 tahun. Karena beberapa kali menghadiri undangan perayaan ulang tahun anak tetangga, makanya dia merengek juga. Perayaannya sangat sederhana yang menghadiri hanya saudara, sepupu-sepupu dan tante-tantenya saja. Sebenarnya itu bukan perayaan, hanya sekedar syukuran kecil-kecilan  sekedar memenuhi rengekan si bungsu.

Usia suami saya  bertambah sekaligus waktunya di dunia semakin berkurang. Namun demikian saya harus tetap bersyukur karena masih diberi waktu mendampingiku. Alhamdulillah, ia semakin matang dan saya semakin jatuh cinta padanya.

Diam-diam, saya  mengamatinya. 
Terlihat keriput-keriput semakin nyata di sudut-sudut matanya, pipinya, dagunya. Pelan-pelan kusibak rambut tipisnya, ehem… menyembul beberapa helai uban yang selalu disembunyikannya.

saya belai-belai lengannya, yang selalu merengkuh bahuku kala  kegelisahan melanda, sedih maupun marah. Lengan inilah yang selalu menggandeng kemanapun saya melangkah.

Teruslah sehat suamiku!
Jika ia sakit, saya biasa berpikir andai  bisa memilih, maka lebih baik saya yang sakit daripada dia.
Kenapa?
Karena saya tidak sesabar dia mengurus orang sakit. Dia memang sangat sabar mengurus siapapun yang sakit dalam keluarga kami. Dia telaten dan siaga mengurus dan mendampingi.

Selamat ulang tahun, suamiku.
Tidak ada perayaan maupun hadiah istimewa untukmu, sebagaimana prinsip dalam keluarga kita, bahwa perayaan ulang tahun tidak termasuk dalam agenda keluarga.
Walau tanpa perayaan saya  selalu memberimu hadiah lima kali sehari di setiap akhir sholatku. Doa untuk keselamatan dan kesehatan untukmu.
Saya akan selalu memberimu hadiah, cinta, kasih sayang yang tak akan pernah tergantikan.

Selamat bertambah usia, suamiku.
Semoga kita tetap dipersatukan kelak di sorga.
Maafkan segala kesalahan dan  kekurangan saya selama mendampingimu.

Sungguh saya sadari, saya belumlah menjadi isteri yang sempurna untukmu namun setiap detik saya selalu berusaha menjadi yang terbaik 

3 komentar:

  1. keren lho bu...
    inspiratif skali..
    skali salam kenal bu..
    saya bangga bisa kenal ibu dawiah
    saya slh satu peserta sagusaku dr tkl dan sgt senang bisa kenal ma semua tmn2 di IGI..
    jujur bu . sdh sejak lama kepinggin nulis sendiri dan klo bisa punya buku sendiri yg ingin kuhadiahkan buat anak2 , suami, keluarga dan masyarakat tentunya..
    saya juga aktifis perempuan di takalar.. byk hal yg bisa jd ide
    mohon bimbingan dan bantuannya iya bu dawiah
    salam hormat dr Nini afriani

    BalasHapus