Sabtu, 19 November 2016

CURHATAN EMAK

Teng..tong…
Bunyi handpone ku terdengar sayup, memang sayup-sayup tetapi terasa menggemuruh di dada. Karena biasanya jika bunyi seperti itu, ada pesan dari orang-orang terdekatku.
Pesan siapakah yang paling sering kunantikan? Yah, pesan dari anak-anakku yang nun jauh di sana.

Kuraih alat yang mengeluarkan sumber suara itu, buka layarnya pelan-pelan.



Aduhai.. ada kiriman pesan dari anak ke-duaku. Deg-degan buka pesannya. Perasaan ini selalu muncul tiap kali mau membaca pesan dari mereka, ada bahagia disertai rasa kekhawatiran, kalau-kalau pesan kali ini adalah pesan yang tidak diharapkan.

Saat pesan kubaca maka yang terlihat adalah foto sehelai kertas yang bertuliskan ATM BNI disertai tulisan lainnya, dan terakhir tertulis “SIMPAN TANDA TERIMA INI SEBAGAI BUKTI TRANSAKSI YANG SAH”.
Segera kujawab. “ ini untuk mama?”
“Untuk dirimu”, “Hahaha”
“Alhamdulillah, semoga tetap sehat dan bertambah dalle alias rezkimu nak” balasku
“Aaamiin” balasnya.

Subhanallah! Berita yang membahagiakan. Bukan karena beritanya tentang kiriman yang ada di foto tersebut melainkan perasaan bahagia itu karena dia, anakku masih mengingat mamanya.
Mungkin saya saja yang terkadang merasa takut, kalau-kalau anak akan melupakan saya dikarenakan jarak yang memisahkan juga karena kesibukan mereka.

Dilupakan oleh orang terkasih pasti akan sangat menyakitkan, apalagi jika itu dilakukan oleh anak sendiri.
Alhamdulillah, hal itu belum terjadi. Semoga saja tidak pernah terjadi.

Terngiang nasehat ibuku, “jangan pernah melupakan orang tuamu juga mertuamu agar kelak kamu tidak dilupakan pula oleh anak dan menantumu”
Nasehat itu seakan mengindikasikan kalau akan terjadi hukum karma, entahlah.

Namun jika kita memandang nasehat itu dari sudut pandang yang lain maka logikanya jika kita selalu memperlihatkan kepada anak kita bahwa kita selalu mengingat orang tua dan mertua maka secara tidak langsung kita telah menanamkan ke dalam memori mereka bahwa mengingat orang tua itu bukan hanya suatu kewajiban melainkan  suatu kebutuhan.

Jika di waktu dahulu, kami berkomunikasi dengan orang tua harus datang dulu berkunjung ke rumah beliau.
Saat ini, media komunikasi sudah sangat lancar juga banyak jenisnya , bisa  telpon-telponan, bisa melalui media sosial. Maka kita dapat menggunakan semua fasilitas itu.

Psst..sekedar info.
Yang paling sering menggunakan media itu adalah si bapak, hampir setiap malam ia mengirimkan gambar, simbol-simbol bahkan fotonya sendiri kepada ke dua anak kami. Mereka berbalas gambar, saling mengirmkan foto, saling hahahaha hihihih lalu sibapak cekikikan sendiri, senyum senyum sendiri dan sangat yakin kalau anak-anaknya juga demikian.

Ini pemandangan yang menghibur hati. Melihat suami yang dahulu paling malas menggunakan media sosial sekarang malah paling rajin.
Katanya “ini tuntutan kebutuhan”

Hihihihi …pasti maksudnya kebutuhan melampiaskan kerinduan.
Kalau saya, menggunakan media itu punya dua kebutuhan. Kebutuhan melampiaskan kerinduan dan kebutuhan kiriman gambar seperti di atas. Hehehehe….dasar emak-emak
Selamat berlibur!






4 komentar:

  1. Betul skali nasehat ibu ta kak.. semoga kita semua selalu bisa dekat dengan keluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin ya rabbal alamin.
      Mendekatkan anak-anak kita kepada keluarga baik keluarga terdekat maupun yg jauh secara otomatis mendekatkannya kepada kita juga, orang tuanya.

      Hapus