Sabtu, 22 Oktober 2016

SETEGAR MAMA

Dini hari di Yogyakarta saat aku lagi mandi terdengar handpone ku berdering, karena keburu sholat subuh aku tidak memperdulikannya. Saat sholat subuh, terdengar lagi deringannya berulang-ulang. Karena penasaran aku tunda berzikir dan menengok handpone ku.

Astaga!  Tiga puluh lima  kali panggilan tidak terjawab dari adikku di Makassar. Deg…jantungku berdegup kencang, ada apa ini? Batinku. Belum sempat aku menelpon balik, handpone ku berdering lagi. Tanpa menungguh waktu aku langsung angkat.  

“Assalamu alaikum, kenapa dek?” tanyaku
“Kak, rumah mama kebakaran!” teriaknya di ujung telepon tanpa sempat lagi menjawab salamku.
“Astagfirullah, bagaimana keadaan mama, kalian semua?” jawabku spontan, yang teringat adalah ibuku yang sudah sepuh.
“Mama dan semua selamat, tapi …” jawabnya. Telepon terputus.

Tinggallah aku yang bingung. Aku telepon balik, tidak diangkat. Aku telepon saudara yang lain, juga tidak diangkat. Tiba-tiba ada kiriman foto, foto rumah yang kebakaran. Foto rumah ibuku dan foto rumahku!

Rumahku juga kebakaran! Rumahku dan rumah ibuku bersebelahan. Aku gemetar, jantungku berdegup makin kencang. Entah kenapa aku ingat si sulung, aku telepon. Tidak di angkat, telepon berkali-kali masih belum diangkat. Aku telepon lagi anak kedua, juga tidak diangkat.

Tiba-tiba Hp ku berdering lagi, ada sms dari si sulung. “Ma, kenapa ki?” ciri khas bahasa Makassar Lalu aku telepon.
“Di manaki nak?” instinku mengatakan kalau dia tidak ada di rumah
“Di rumahnya temanku, lagi kerja tugas” jawabnya
“Pulang ko nak, rumah ta kebakaran” suaraku parau
“Astagfirullah, iye ma..iye pulangka ini” terdengar panik.

Lalu aku bergegas melapor kepada pimpinan rombongan untuk balik ke Makassar, aku menyampaikan musibah yang menimpa keluargaku di Makassar. Setelah mengurus tiket untuk balik ke Makassar, maka tinggallah aku di Bandar udara Adi Sucipto Yogyakarta menungguh pesawat menuju Makassar.

Sendirian, dengan perasaan yang tak karuan. Hari itu terasa hari yang paling panjang. Pukul 12.00 WIT, aku tiba di Bandar udara Sultan Hasanuddin.

Ternyata sudah ada adikku yang menungguh. Wajahnya pias, pucat dengan mata sembab. Dia langsung memeluk aku dengan tangis yang tertahan. Sejenak kami berpelukan.

“Sabar, bagaimana keadaannya mama?” aku mencoba menghiburnya. Lebih tepatnya menghibur diriku sendiri.
“Mama baik kak, tapi rumahnya dan rumah kakak habis” ucapnya dengan mata berlinang
“Tidak ada yang tersisa kak” dia mulai sedikit meraung tertahan. Aku kembali memeluknya erat, aku berusaha menahan tangis.

Tidak! Aku tidak boleh menangis, aku harus kuat. Di sepanjang jalan menuju rumah, kami tidak lagi bercakap. Kami diam. Suaminya yang menyopiri mobil juga diam.

Dan sampailah kami di rumah saudara tempat keluargaku mengungsi. Orang pertama yang aku cari adalah mama. Aku memandangi wajahnya yang kuyu.

Ya Allah, tanpa bermaksud memprotes takdir-Mu atas keluargaku, tapi tolonglah mamaku, berilah ia kekuatan dan kesabaran. Usianya sudah sepuh, ya Allah, kalau bukan karena limpahan kasih akungMu, bagaimana ia bisa menjalani sisa sisa usianya. Aku berbisik kepada Allah sambil memandang wajah mamaku.

Tapi, sungguh aku malu, mamaku tidak menangis. Apalagi meraung-raung seperti tetangga lain yang senasib. Dia, mamaku dengan bibirnya yang keriput menceritakan semua kejadian itu dengan lancar. Kadang diselingi dengan tawa. Seakan kejadian itu adalah peristiwa lucu dan biasa saja.

Dengan rinci, dia menceritakan saat detik-detik api itu mulai melahap satu perasatu barang barangnya, menyapu bersih rumahnya.
Masya Allah, mama yang sekian puluh tahun menempati rumah itu tidak sedikitpun menampakkan kesedihannya. Wajahnya memang terlihat lelah. Sangat lelah. Namun semangatnya tetap membara seperti bara apa yang ada pada puing puing rumahnya.

“Kalau Allah memberiku umur panjang, insya Allah aku masih bisa kembali ke rumahku lagi” katanya penuh semangat.
“Aku masih hidup, berarti Allah masih menyimpankan rezki untukku” katanya lagi.

Oh..mamaku, aku berdesah lirih. Jika, dia yang sudah sepuh masih memiliki semangat, kenapa aku anaknya tidak. Kesedihanku yang menggumpal di hati yang sekuat tenagaku kubendung agar tidak terlihat pada keluargaku terutama suami dan anak-anakku mulai mencair walau sedikit demi sedikit.

Menatap wajahnya yang penuh harapan dan prasangka baik kepada-Nya membuatku malu untuk bekeluh kesah.
Perlahan, aku mulai berani melihat puing-puing rumahku. Karena beberapa saat aku tidak berani ke rumah itu, aku takut kalau aku tidak mampu menahan tangisku. Melihat muka suamiku yang kelihatan kuyu, anak-anakku yang berpakaian seadanya karena pakaian yang bisa dia selamatkan hanyalah yang ada melekat di badannya saja.

Aku sedih. Sungguh … sangat sedih! Namun aku berusaha membelai mereka, orang-orang yang aku cintai itu dengan senyum Dan terus memberikan semangat, bahwa semua akan baik-baik saja. Bukankah Allah SWT telah menjanjikan,

“Bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” Al-Insyirah : 5. Ayat ini sudah lama aku ketahui, bahkan berkali kali aku ajarkan kepada anak anak aku, kepada teman-teman yang mengalami kesulitan. Tapi baru kali ini aku memanfaatkannya. Aku merasakan mujizat ayat ini, sebagai penghibur hati aku, penyemangat aku dan sekaligus pengobat hati.

Kembali menengok wajah ibu aku yang selalu tersenyum dalam kepiluannya. Aku mendengar tawanya yang halus dalam kesusahannya. Menyaksikan beliau yang tidak berhenti bersyukur ditengah musibah yang menimpahnya. Beliau sangat yakin akan janji Allah bahwa sesudah kesulitan akan datang kemudahan.

Beliau percaya bahwa Allah mencintainya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Jika orang yang kamu khawatirkan akan sakit dalam kesedihannya justru dia yang menghiburmu.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Jika anak anakmu yang kamu takutkan keselamatannya justru sangat kuat mengumpulkan sisa-sisa barang yang terselamatkan.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Jika orang orang yang kamu takutkan akan mencibirmu justru telah datang satu persatu membantumu, mendoakanmu.

Bukankah salah satu kenikmatan dunia adalah ketika kita masih memiliki keluarga, sahabat, teman-teman yang selalu mendukung baik dalam suka maupun dalam duka.

Maka semangat untuk terus berjuang semakin bergelora dalam batinku dan aku makin percaya bahwa janji Allah pasti ditepati.

SESUDAH KESULITAN PASTI ADA KEMUDAHAN

0 komentar:

Posting Komentar