Jumat, 28 Oktober 2016

PEMBELAJARAN HARI INI

Masuk ke kelas ini selalu saja membuatku bersemangat. Suasana kelas yang nyaman, bersih dan rapih. Suasana ini yang  selalu menarikku untuk berlama-lama di sana.
Aku memandang satu persatu murid-muridku dengan hati yang berbunga.

“Anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran, seperti biasanya kita membaca Al Qur’an dahulu ya " Aku menebarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Tangan-tangan mungil itu mulai sibuk membuka Al Qur’an yang setiap hari, harus selalu dibawa.

“Hari ini, kita sudah sampai pada bacaan surah ke-104, surah apakah itu anak-anak” tanyaku.
“Surah  al Humazah, bu” jawab Assad,  si bongsor.
“Baiklah, siapa yang akan memimpin” tanyaku sekali lagi.
“Saya ibu” jawab Kirana lembut

Maka, mengalunlah suara merdu Kirana, membacakan surah Al Humazah ayat demi ayat dengan fasih diikuti oleh teman-temanya.

Bismillahir Rohmanir Rahiim

(104:1) Wailul likull humazatil lumazah
(104:2) Allazii jama’a maalaw wa’addadah
(104:3) Yahsabu anna maalahuuu akhladah
(104:4) Kallaa layumbazanna fil-huthomah
(104:5) Wa maaa adrooka mal-huthomah
(104:6) Naarullohil-muuqodah
(104:7) Allatii taththoli’u ‘alal-af idah
(104:8) Innahaa ‘alaihim mu’shodah
(105:9) Fii ‘amadim mumaddadah


Kirana telah tuntas membacakan surah Al Humazah, aku lalu mengarahkan pandangan kepada murid lainnya.
“Siapa nih yang mau membacakan terjemahan surah Al Humazah?”Tanyaku lagi.
 Seorang pemuda cilik di ujung kanan mengacungkan tangan.

“Baiklah, Bara Pramudya  bersedia membacakan terjemahannnya, yang lain, didengarkan yah … ?”

  1. Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.
  2.  Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya
  3. Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya
  4. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah
  5. Dan tahukah kamu apakah (Neraka) Hutamah itu?
  6. Yaitu api (azab) Allah yang dinyalakan
  7. Yang (membakar) sampai ke hati
  8. Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka
  9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

“Terima kasih, Bara …, hayooo, apakah makna yang dikandung  surah Al Humazah yang dibacakan oleh Bara tadi?”

“Itu, tentang orang-orang yang suka mencela bu guru …” serempak mereka menjawab

“Mencela itu, yang bagaimana yah?” tanyaku lagi

“Yang suka mengejek buuuu …” jawab Riana, murid termungilku

“Perbuatan yang tidak baik bu guruuu …” kata Firman, sang ketua kelas.

“Anak-anakku, apa yang dikatakan oleh Riana maupun Firman itu adalah benar, bahwa sesungguhnya  mencela adalah perbuatan yang tidak baik dan dibenci oleh Allah … ”. Aku mencoba menjelaskan tafsir surah Al Humazah dengan pengetahuanku yang sederhana.

Mencelah orang lain melalui isyarat  dan perbuatan maupun dengan ucapan, kadang-kadang tanpa kita sadari seakan-akan itu biasa saja padahal Allah SWT  telah memperingatkan melalui surah Al- Humazah ini, yaitu api (azab) yang dinyalakan dan akan membakar sampai ke hati. Astagfirullah!

Sambil merenungi surah Al-Humzah, aku kembali memandang satu persatu wajah murid-muridku, wajah polos tanpa dosa. Mereka sudah mulai memahami arti mencelah, maupun mengumpat, namun sangat penting untuk memperkenalkan contoh-contoh mencelah, mengumpat baik secara isyarat maupun secara lisan.

Maka, orang tua, guru serta orang-orang dewasa di sekeliling anak-anak polos itulah yang seharusnya bertanggung jawab untuk memberikan pengarahan maupun nasehat.
Bukan hanya sekedar nasehat melalui kata-kata, tetapi yang paling utama adalah memberi contoh melalui sikap dan perkataan. Orang tua maupun guru sedapat mungkin tidak mencelah orang lain baik melalui isyarat maupun kata-kata apalagi jika itu dilakukan di hadapan mereka.

Karena anak-anak adalah plagiator terbaik! 


1 komentar: