Senin, 03 Oktober 2016

MENUNTUN TANPA MEMAKSA


                                       
MENUNTUN TANPA MEMAKSA

Kedekatanku dengannya tidak diragukan lagi.
Di waktu kecilku, dia yang selalu memujiku.
“Kelak anakku ini akan menjadi orang yang sukses, karena dia sangat rajin belajar” pujinya kepada setiap orang yang kami temui.
Wajahnya sangat tampan, hidungnya mancung, giginya putih dan rata.
Dia sangat gemar membaca. Setiap selesai membaca maka ia kan mengajakku berdiskusi. Memaksaku mengkritisi bacaannya. Karenanya mau tidak mau, suka atau tidak suka, saya harus membaca pula bacaannya. 
Jika tidak, maka saya tidak punya bahan untuk berdiskusi dengannya, lebih seringnya sih beradu argumen.
Terkadang dia menanyakan siapa pemuda yang pernah mengirimiku surat cinta. Dan saat peristiwa itu terjadi, saya dengan lugunya memperlihatkan surat cinta pertama yang saya terima.
Dia tertawa terbahak membaca surat itu.
“Ha.ha..ha..pemuda ini sungguh bodoh, dia tidak pintar menulis surat. Pasti otaknya hanya sejumput puntung rokok” katanya samba tertawa renyah
Dan kata-kata itu selalu saja terucap setiap kali saya memperlihatkan surat-surat cinta berikutnya. Kadang dia berkata.
“Aiii, pemuda ini tidak pantas dengan kamu, dia tidak secerdas dirimu”
Belakangan saya mengerti, begitulah cara beliau melarangku berhubungan dengan pria. Dia tidak pernah secara terang-terangan melarangku berkirim surat cinta apalagi berhubungan dekat dengan pria.
Karena setiap kali dia berkomentar tentang surat-surat tersebut maka spontan saya merobeknya dan tidak lagi mengindahkannya.
Demikianlah bapak, orang tua yang kukasihi segenap jiwaku Dia mengajariku cara membaca yang baik. Menuntunku memahami setiap tulisan juga mengajariku berdiskusi.
Dia bukanlah seorang guru apalagi seorang professor. Dia bapak yang biasa saja. Tidak berkantor, tidak pula kaya. Dia sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Namun dia sangat kaya dengan ilmu. Dia rajin belajar dengan membaca.
Dia memberi contoh bahwa dengan membaca kita dapat mengarungi luasnya ilmu. Tanpa membaca kita akan buta, buta yang sesungguhnya.
Ketika penglihatannya diambil oleh Allah swt, maka kami anak-anaknya yang bertugas menuliskan ceritanya. Dia sangat piawai mendongeng, dongengnya itu selalu bertemakan Islam.
Jika ia bercerita tentang Rasulullah saw, matanya selalu berkaca-kaca. Kadang ceritanya diselingi dengan bacaan barzanji dan lebih sering diselingi dengan mengaji.
Saat dia melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an yang dia hafal, suaranya sangat syahdu. Mengalun merdu dan tidak lupa meminta saya mengecek bacaannya, kalau-kalau ada yang salah.
Pada saat saya mengecek bacaannya terkadang beliau menyuruh untuk melanjutkan bacaannya lalu membaca terjemahannya. Kemudian beliau akan mengajak saya berdiskusi tentang terjemahan ayat-ayat tersebut.
Begitulah cara beliau mendekatkan saya kepada Al Qur’an.
Begitulah cara beliau mengajarkan nilai-nilai moral, nilai-nilai agama tanpa menggurui, tanpa memaksakan kehendak.

Dia sangat istimewa!




0 komentar:

Posting Komentar