Senin, 03 Oktober 2016

MARLIAH

       Dia bukan orang asing bagiku.
Beberapa tahun yang lalu, ia adalah salah seorang muridku. Waktu itu, ia masih sangat belia. Wajahnya imut dengan mata bulat yang menyiratkan kecerdasannya. Maka ketika bertemu kembali, saya agak pangling.  Dia semakin dewasa dan telah dikaruniai 6 orang anak. Bahkan dia bukan lagi muridku melainkan telah menjadi rekan kerjaku.
 Wajahnya semakin memancarkan kecerdasannya. Dia disegani oleh semua orang. Baik oleh murid-muridnya maupun oleh rekan-rekan guru di sekolah. Disegani bukan karena kecerdasannya saja melainkan juga karena ketegasannya dan terutama karena  kedisiplinannya.
“Saya malu Bu.kalau terlambat ke sekolah” Itu kata yang biasa saya dengar dari bibirnya.
Dia mengerjakan semua kewajibannya dengan baik dan tepat waktu padahal dia juga tercatat sebagai mahasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi di Makassar.
Lalu kabar itu berhembus sangat kencang. Ibu Marliah pergi meninggalkan rumahnya. Saya tidak pernah berani menanyakan hal itu. Saya tidak percaya dengan berita itu, karena tidak ada perubahan yang terjadi pada kesehariannya di sekolah. Dia masih tetap disiplin mengajar, kuliahnya juga masih lancar.
Dan yang terpenting senyumnya masih sumringah. Dia termasuk guru yang paling sering bercanda. Karena seringnya bercanda, jika ia seriuspun masih dianggap sedang bercanda. Pokoknya ia masih seperti yang dahulu.
Pagi itu, ia duduk disampingku, dengan suara yang datar ia berkata: “ibu, saya telah meninggalkan rumahku, suamiku, dan anak-anakku”
Bagai disambar petir, saya menengok ke arahnya. Menatap lekat-lekat mukanya. Ada raut gelisah di sana. Oh.. baru terbaca olehku, wajahnya tidak seceriah dahulu. Ia sedikit kurus.
“Saya kurus yah bu?” tanyanya seakan tahu  pikiranku.
“Iya, tetapi kamu tambah cantik, karena badanmu menjadi langsing” kataku.
“Eh, ibu bisa saja”
“Bagaimana kuliahmu, kamu tinggal di mana sekarang?” Tak sadar saya memberondongnya dengan pertanyaan.
“Alhamdulillah, kuliahku lancar bu. Saya sekarang tinggal di daerah” jawabnya sambil tersenyum simpul
Hari berlalu, Ibu Marliah masih terus sibuk dengan dua aktifitasnya, mengajar sambil kuliah. Saya tak pernah lagi bertanya tentang keadaannya.
Setahun telah berlalu, ibu Marliah mengabarkan kalau dia telah resmi bercerai. Dan memutuskan untuk menetap di desanya. Suatu daerah yang jaraknya ke kota Makassar sejauh kurang lebih 95 km. Enam hari dalam seminggu ia menempuh perjalanan panjang, melewati dua kabupaten dengan kemacetan yang menghadang di perbatasan kota Makassar.
Ia menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam di perjalanan untuk pergi pulang  dari desanya ke tempat tugasnya mengajar.
Dia masih disiplin menjalankan tugas, senyumnya kadang diselingi dengan kesedihan disudut matanya. Namun ketegaran dan semangatnnya masih membara. Dalam dukanya berpisah dengan keluarga, ia masih mampu menyelesaikan kuliahnya bahkan dengan predikat terbaik 1.
Luar biasa!
Ia masih tetap menjadi guru kesayangan di sekolah, dengan kharismanya, dengan wibawanya dengan kedisiplinannya yang tak pernah luntur.
“Saya juga punya perasaan sedih, terkadang sangat lelah. Namun tugas dan tanggung jawab adalah nomor satu”
“Banyak hikmah yang saya dapatkan dalam kisah hidupku ini. Saya makin yakin akan kasih sayang Allah, saya juga kian dekat dengan anak-anakku, dengan keluargaku”
“Dalam perjalanan panjangku setiap hari banyak sekali saya temui orang-orang yang berjibaku dengan penderitaannya, orang-orang yang jauh lebih susah dan menderita dari saya”. Ia bercerita panjang lebar.
Barangkali hikmah itulah yang dia temukan dalam kisah hidupnya. Bahwa dibalik penderitaannya berpisah dengan keluarganya dia menemukan keluarga-keluarga lain di sekelilingnya. Ia berjumpa dengan orang-orang yang jauh lebih menderita dari dirinya. Ia dapat mengambil hikmah atas semua itu, sehingga ia masih dapat terus bersyukur atas nikmat lain yang dirasakannya.
Ia memaknai rasa syukur itu dengan tetap menjalankan tugasnya  dengan baik. Bahkan semakin baik. Dia bersabar atas semua cobaan hidupnya sembari terus bersyukur atas nikmat-nikmat lain yang dia dapatkan.
Bahwa, sesungguhnya kesabaran akan selalu berbarengan dengan kesyukuran. Dan atas semua usaha itu maka Allah taala akan berkenan atasmu. Meridhoi setiap langkah kakimu.
Bukankah nikmat yang abadi itu adanya di surga, dan dunia ini hanyalah persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal dalam rangka menghadap kepada pemilik segalanya.
Marliah, selangkah lebih maju dariku.
Karena dia telah melewati cobaan yang luar biasa tanpa mengeluh. Menyelesaikan masalah demi masalahnya dengan sangat cerdas. Dan telah mampu menemukan hikmah atas musibah keluarganya.

Makassar, 1 Muharram 1438 

0 komentar:

Posting Komentar