Senin, 24 Oktober 2016

GURU PEMBELAJAR

Saat mantan Menteri Pendidikan pak Anies Baswedan meluncurkan program Guru Pembelajar maka saat itu juga berbagai macam tanggapan muncul. Dari yang mulai ngedumel jengkel, yang senyum mesem-mesem karena sadar diri sebagi guru gaptek, yang meragukan tentang gunanya jadi guru pembelajar, yang tidak perduli, yang senang karena mau belajar, yang malu-malu  hingga yang takut menghadapi kegiatan itu.  Pokoknya ramai dee..

Padahal kegiatan guru pembelajar itu asyik, beneran asyik. Apalagi yang masuk dalam kategori Moda Daring Kombinasi. Saya berani bilang karena pengalaman pribadi. He..he.. ternyata….

Awalnya teman-teman guru malu untuk mengakui kalau dia termasuk dalam kategori itu karena berhubungan dengan rapor guru (pssst..guru juga punya rapor lho). Nah..lu ketahuan kan kalau guru juga banyak yang seperti murid-muridnya, ada merahnya juga, hiks..hiks jadi malu.

Tapi lupakanlah rapor guru itu  kita fokus saja kepada kata “Pembelajar” nya. Pada dasarnya program ini sangat membantu guru untuk meng-up date ilmunya yang mungkin selama ini tertimbun atau bisa jadi  tersimpan rapi dalam memori dan foldernya tidak pernah terbuka. Mari..kita buka lagi file-file di kepala, kembali belajar lagi. Bukankah belajar itu tidak mengenal usia, waktu, dan profesi? Seperti kata seorang pakar (maaf lupa nama pakarnya) “kalau tidak mau belajar maka berhentilah menjadi guru!”.


Mari ..belajar lagi, tambah ilmu yang banyak lagi dengan niat membagikannya kepada anak-anak kita, murid-murid kita sebagai generasi penerus agar kelak kita dapat menghadap kepada Ilahi dengan tenang karena telah menunaikan amanah dengan baik. Sesungguhnya guru adalah pelukis wajah bangsa kaena guru selalu melukis sketsa generasi bangsa. 

0 komentar:

Posting Komentar