Senin, 24 Oktober 2016

GURU OH GURU

Malam ini, tanpa sengaja saya membaca postingan teman di facebook tentang guru.
“Guru itu hanya mengejar tunjangan saja, kualitas nomor dua”.
Entah mengapa, saya sangat sedih.
Apakah karena saya juga seorang guru sehingga tanpa sengaja kesedihan itu menyelusup ke relung-relung hatiku? Entahlah.

Tiba-tiba saja saya teringat guru saya di SD. Seorang diri di kelas mengajarkan semua jenis mata pelajaran.  Mulai pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia hingga kesenian.
Aduhai, betapa  hebatnya  mereka!

Ketika itu saya memandang profesi guru adalah profesi yang paling hebat,  lebih hebat daripada dokter, lebih hebat daripada  polisi, bahkan lebih  hebat daripada presiden.

Waktu itu saya berpikir, kalau dokter tahunya hanya menyuntik, memeriksa bagian dada menggunakan stetoskop , mengukur tekanan darah dan denyut jantung, kemudian memberi resep.

Saya berpikir pula kalau polisi itu hanya  tahunya  mengatur lalu lintas di jalan, menangkap orang jahat dan menakut-nakuti anak kecil.

Saya juga berpikir, presiden itu tahunya hanya pidato dan  menjadi Pembina upacara. Sedangkan guru SD saya, mampu mengajarkan semua mata pelajaran, sangat piawai menjelaskan ilmu berhitung, tulisannya bagus dan rapi, sangat pandai bercerita tentang  sejarah, mulai sejarah tentang pahlawan  negara hingga sejarah Islam. Dia juga sangat pandai bernyanyi, walau kadang-kadang suaranya serak.

Pandangan masa kecilku itulah yang menuntunku kearah jalan yang saat ini kujalani. Jadi Guru!
Guru adalah pilihan hidupku!

Sebelum Pemerintah Indonesia  menggelontorkan tunjangan profesi untuk guru, yaitu tunjangan sertifikasi, kami para guru tetap mengajar dengan ikhlas. Walau dengan gaji secukupnya.

Di masa yang lalu, profesi guru di Negara yang kita cintai ini merupakan profesi yang tidak diminati. Apalagi oleh anak muda.
Profesi guru adalah kampungan, miskin. Mungkin karena itulah  Iwan Fals menciptakan lagu Umar Bakri.

Umar Bakri, dalam  lagu itu digambarkan sebagai guru yang memakai sepeda butut, jujur berbakti  tetapi selalu makan hati.  Sedikit miris membaca lirik lagu itu namun rupanya Iwan Fals sangat paham kalau guru telah banyak menciptakan menteri, professor, dokter bahkan insinyur. Dan Iwan Fals juga prihatin karena gaji guru seperti dikebiri.

Apakah saat ini, guru masih seperti Umar Bakri?
Tentu saja tidak, bagi sebahagian guru. Sebahagian saja?
Yah!

Karena ada beberapa guru yang belum dapat menikmati sepenuhnya tunjangan sertifikasi tersebut. Mereka adalah para guru yang masih berstatus honorer.

Setelah sekian lama bergaul dengan saudara-saudara saya yang masih berstatus honorer, mendengarkan cerita-cerita mereka, ikut bersenda gurau bahkan menyimak curhatan mereka. Saya lalu berkesimpulan kalau ternyata masih banyak Umar Bakri-Umar bakri lain.

Walaupun tidak lagi menggunakan sepeda butut, tetapi masih sering makan hati. Jumlah gaji mereka atau lebih tepatnya honor mereka tergantung pada jumlah jam yang dijalankan. Apakah sama dengan upah minimal regional (UMR) buruh?

Tidak!
Jauuuh!
Kadang-kadang mereka menertawakan diri sendiri sambil bercanda.
“Kita tampil keren dapat gaji seadanya, buruh tampil seadanya tetapi gajinya keren”.

Walaupun kadang mengeluh tetapi mereka masih saja berusaha mengajar dengan baik. Dengan honor seadanya, mereka masih menyisihkannya untuk membeli pakaian agar tampak rapi kala mengajar di kelas. Penampilan rapi dan bersih adalah salah satu “kode etik” guru, karena mereka akan tampil bagai artis di depan kelas.

Ah, lupakanlah sejenak nasib saudara-saudara saya itu, karena ada yang menarik hati. Sertifikasi, yah sertifikasi!
Karena sertifikasi, nasib guru dianggap semakin baik. Karena sertifikasi pula  profesi guru mulai dilirik.

Apakah karena sertifikasi ini yang membuat banyak orang mulai mengamati, meneliti, menganalisis dengan berbagai macam indikator kemudian menarik kesimpulan? Apakah karena sertifikasi ini yang membuat banyak orang mulai “iri”, sehingga sebahagian orang mulai melupakan jasa-jasa gurunya?

Pernahkah mereka berkunjung ke pelosok-pelosok desa, ke pulau-pulau yang tersebar di seluruh Nusantara? Atau pernahkah mereka datang ke lereng-lereng bukit dimana jalanannya hanya bisa dilewati oleh satu orang saja dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja? Apakah mereka tahu jika di tempat-tempat itu ada banyak guru yang mengabdikan jiwa raganya, mengikhlaskan membagi ilmunya kepada ribuan bahkan jutaan anak-anak bangsa.

Maka, berhentilah menyudutkan guru, berilah mereka kesempatan memperbaiki diri kalau itu memang dianggap masih kurang. Bantulah mereka berjuang karena sesungguhnya yang diperjuangkan itu adalah untuk kejayaan bangsa!

0 komentar:

Posting Komentar