Selasa, 18 Oktober 2016

DUNIA BARU DARI SUDUT BARU

Tahun 1986, saya menerima SK pertama tentang lokasi penempatan tugas.  Mata nanar menatap pada SK tersebut.  Ya Allah, saya ditempatkan di daerah terpencil!
Sekali lagi daerah terpencil! Daerah yang berada di kaki gunung Bulusaraung, belum ada listrik. Transportasi ke daerah itu juga belum lancar, jauh dari keluarga pula.
Ah, bagaimana ini? Saya belum pernah meninggalkan keluarga. Belum terbiasa hidup sendiri.  
“Pergilah nak, ini pembelajaran hidup” bujuk bapak.
“Tapi saya takut, pak” keluh saya parau.
“Daerah ini kan masih di Sulawesi, perjalanannya masih bisa ditempuh dengan naik mobil” kata bapak dengan sabar.
“Tapi belum ada listriknya, sepi, tidak ada tv” masih parau.
“Bismillah saja, inikan pilihanmu jadi guru, maka jalani dengan semangat” kata bapak dengan mata berbinar.
Hingga waktunya tiba, saya harus ke daerah itu. Jiwa harus dikuatkan, semangat harus dipompa lebih kencang.
Dalam perjalanan yang melelahkan di atas mobil pete-pete (nama angkot di daerahku. Makassar) saya mencoba memandang daerah itu dari sudut yang berbeda. 
Ehm…daerah ini sangat indah.
Ketika memandang dari sudut berbeda tampaklah keindahannya. Jalannya berliku, kadang mendaki bukit dan tak jarang pula menuruni bukit. Shiuur …berdesir darah di jantungku.
Asyiiik… memandangi pepohonan yang rimbun, rumah-rumah panggung khas Sulawesi Selatan berdiri tegak saling berjauhan.
Sejuk, aromah dedaunan yang khas menusuk hidung.
Saya melemparkan senyum ke penumpang lain
“Assalamu alaikum bu..perkenalkan saya ibu guru yang akan bertugas di daerah ini” saya mencoba membangun komunikasi.
“Waalaikum salam, iiii…ada ibu guru baru, cantiknya..”serentak ibu-ibu itu membalas salamku.
Oh senangnya disapa seperti ini.
“Hiii …ibu-ibu bisa saja, apakah ibu tahu sekolah yang akan saya tuju?” Tanya saya.
“Pasti tahu bu guru cantik, kan di daerah ini hanya satu sekolah saja yang ada” jawab si ibu berbaju hijau dengan lembut.
“Nanti kalau ibu sudah tinggal di sini, jalan-jalan yah ke rumah, ada anakku itu yang akan ibu ajar” ajak ibu berbaju ungu.
“Iyah, ke rumahku juga bu guru..” mereka serempak mengundangku
Allahku inilah nikmatMu? Saya belum mengajar anak-anak mereka tetapi mereka sudah menyambutku dengan tangan terbuka. Bahagia tiada terkira.
Percakapan di atas mobil hari itu, seakan oase di padang pasir, sejuk sangat sejuk. Semangatku semakin membuncah, tak sabar rasanya menatap calon murid-muridku.
Dan, hari itu datang juga. Perjumpaan pertama dengan murid-muridku. Wajah-wajah manis dengan berbalut pakaian seragam sederhana.  Sinar matanya berbinar bahagia menyambut para guru baru.
Seakan menyiratkan kerinduan. Setelah sekian lama, mereka harus meninggalkan kampung halaman jika ingin bersekolah.
Mereka juga generasi bangsa yang membutuhkan pengetahuan.
Kekhawatiran saya yang awalnya membuatku ragu untuk ke daerah ini sirnalah sudah.
Semangat membagi ilmu semakin membara, bahwa ada anak-anak manis yang telah lama merindukanku, menantiku. Di sini di daerah terpencil ini.

Dunia bukan hanya di perkotaan, tetapi nun jauh di sana, di daerah terpencil ada dunia lain yang menjanjikan harapan. Ada anak bangsa yang membutuhkan kasih sayang yang haus dengan ilmu dan informasi.








0 komentar:

Posting Komentar