Senin, 24 Oktober 2016

BELUM TERLAMBAT


Mencoba belajar “menulis” diusia senja, sepertinya sudah sangat terlambat. Perasaan itu terkadang muncul jika melihat perkembangan dunia tulis menulis yang saat ini sungguh luar biasa pesatnya. Apalagi dengan adanya dunia maya, telah memudahkan setiap orang untuk “menuliskan” apapun yang ada dihatinya, dipikirannya.

 Media sosial bagaikan magnet yang sangat kuat dimana pada kutub-kutubnya akan menarik setiap orang untuk masuk ke dalamnya. Walaupun dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda, namun media sosial secara tak sengaja telah menularkan virus membaca dan menulis bagi penggunanya. Semisal Menuliskan perasaan  senang, kesal ataupun curhat atau hanya sekedar komen   di Facebook, bercengkrama di WA, saling menyapa di line atau mengomentari foto di instagram hingga memiliki blog.

Menulis dan membaca adalah hobbiku sejak   kecil. Menuliskan isi hati di buku diari sederhana ataupun menulis ulang puisi orang lain yang saya temukan di Koran adalah kebiasaan masa kecilku. Kebiasaan itu tidak benar-benar hilang, sesekali masih saya lakukan. Menulis puisi atau sekedar menyalin kata-kata inspirasi dari hasil bacaan pada buku agenda di sela-sela rutinitas kerja dan kesibukan mengurus rumah tangga.

Ketika saya mulai mengenal internet, saya tercenung, melongo bagai si-dungu yang berada di dunia asing.
Gaptek! Yah, saya gagap teknologi. Tapi saya tidak malu untuk belajar. Saya belajar kepada anak saya, belajar dibuatkan  email, belajar membuat facebook (fb pertama saya sudah raib entah kemana karena selalu lupa paswordnya). Berkali-kali dibuatkan email hingga akhirnya bisa buat sendiri dan bisa menggunakannya untuk berkirim surat. Memilik fb adalah kesenangan tersendiri karena melalui fb saya bisa bersilaturahim lagi dengan kawan-kawan di masa lalu. 
Terima kasih, Mark Zuckerberg!

Melalui facebook, saya berkenalan dengan komunitas ibu-ibu yang  cerdas.  Terinspirasi pada kehebatan ibu-ibu yang memiliki bisnis, ibu-ibu yang jago menulis cerita, menulis artikel dan lain sebagainya.

Karena penasaran dengan kehebatan mereka, maka saya bergabung pada grup Tips Nulis dan Bisnis 13, berkat grup TNB ini pula yang menarikku untuk mengikuti training-trainingnya. Untuk menambah ilmu disamping saya semakin rajin membaca saya juga  mulai rajin menyambangi blog-blog yang bertebaran di dunia maya.

Walaupun usia sudah tidak muda lagi tetapi semangat untuk memulai tidak kalah dengan ibu-ibu yang masih muda. Terkadang malu juga, jika mendapati mereka  masih muda tetapi sudah mampu berkarya, membuat buku, punya bisnis. Bahkan menjadi konsultan dan mentor saya.

Tak apalah, bukankah belajar itu tidak mengenal usia, tidak pula mengenal waktu. Belajar tidak harus kepada yang sudah tua, karena ilmu tidak pernah memilih kepada siapa ia berlabuh. Pilihan ilmu hanya satu, kepada orang yang mau memilikinya.

Belum terlambat untuk memulai, justru karena usia yang sudah banyak inilah seharusnya menjadi pemicu untuk belajar lebih keras lagi, agar dapat mengejar dan memanjat dengan cepat untuk sampai pada titik pencapaian.


Harus bisa sebelum ajal menjemput, agar kelak saya dikenang oleh anak-anak saya dan orang-orang yang  mengenal saya sebagai ibu yang bersemangat.

0 komentar:

Posting Komentar