Jumat, 21 Oktober 2016

ALBUM FOTO USANG

Hari ini ada yang aneh dengan perasaanku, ada sendu di sudut hati tatkala menatapi album foto usang yang nyaris hangus terbakar. Di dalam album itu, terdapat banyak sekali kenangan. Setiap foto yang tercetak menyiratkan cerita tersendiri.

Seperti foto usang itu, empat wajah putraku berpose di sana. Mereka duduk berderet sesuai urutan usianya. 
Hem … sendu hatiku bukan karena sedih, tetapi terkenang masa-masa kecil mereka yang bermain bersama tanpa didampingi oleh ibunya. Bukannya tidak pernah, tetapi sangat jarang.

Banyak cerita dalam keseharian mereka yang terlewati. Kesibukanku sebagai ibu yang bekerja di luar rumah yang menjadi penyebabnya. Aku hanya memiliki separuh waktu bersamanya. Mereka tumbuh dan berkembang diantara orang-orang yang silih berganti menemaninya. Barangkali karena itulah, mereka memiliki pribadi yang mandiri, dan gampang beradaptasi.

Apakah aku menyesal dengan pilihan yang terlanjur kujalani? Tidak! Ini pilihanku. Pilihanku untuk menjadi guru telah sesuai dengan passionku, aku bangga dengan pilihanku, anak-anakku pun bangga.

 Aku yakin itu, terbukti ketika mereka dengan bangganya memamerkan aku kepada teman-temannya.
“ini mamaku, mamaku pandai, dia guru” kata si sulung .
Atau ketika putra ke-empatku bercerita kepada temannya, waktu itu dia masih bersekolah di taman kanak-kanak.
“Kalau mau belajar, di rumahku saja, ada mamaku yang akan mengajar kalian. Dia pintar, mamaku guru”.
Itulah mereka, yang bangga dengan mamanya.

Kembali kutatap foto usang itu, terlihat senyum sumringah dari sulungku. Terbayang lagi masa kecilnya.
Awalnya dia egois. Semua mainan yang ada di rumah adalah miliknya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dia mulai berubah. Dia tampil sebagai pribadi yang lebih penyabar, dia yang memimpin adik-adiknya, mengingatkan waktu sholat, serta mengajak adik-adiknya ke masjid.

Aku dan si-sulung sering jalan berdua. Ke toko buku, ke mall, atau sekedar menemaniku sarapan bubur di warung bubur langgananku. Berkunjung ke rumah saudara ataupun ke rumah sahabatku, paling nyaman mengajak dia. Dia sabar menemaniku, menungguiku yang asyik bercengkrama dengan sahabatku.

Kupandangi foto putra keduaku, dahinya yang lebar menggambarkan kecerdasannya dan kepribadiannya yang tenang. Senyumnya manis dengan lesung pipit yang menambah manis parasnya. Saat dia di TK, banyak sekali temannya yang datang menjemput, memanggil-manggil namanya.
“Fausan … Fauzan … ayo kita ke sekolah” Teriak teman-temannya.

Hampir setiap hari dia dijemput oleh teman-temannya, dan uniknya yang datang menjemput adalah gadis-gadis cilik teman TK nya. Kalau ditanya, kenapa yang jemput hanya teman perempuan, maka dia akan menjawab.
“Mereka fansku, mama” katanya sambil menaikkan alisnya, menggoda.

Suatu waktu, dia terkena penyakit sesak akibat alergi debu. Dia sangat tersiksa. Begitu tersiksanya sehingga ia memukul-mukul dadanya sendiri. Namun sungguh, aku sangat bangga padanya, sesesak apapun dia, ia tetap melaksanakan sholat.

Seperti waktu itu, hari Jum’at. Sesaknya datang lagi, ia menelungkupkan kepalanya di atas bantal. Pikirku, ia akan melewatkan sholat Jum’atnya. Tetapi, begitu azan pertama berkumandang di masjid belakang rumah kami, ia bangun dengan nafas tersengal, buru-buru memakai pakaiannya lalu lari ke masjid. Sholat Jum’at. Subhanallah!

Alhamdulillah, kini ia telah sembuh. Ia menjelma menjadi pemuda tangguh yang semakin gagah. Sehat terus anakku!

Foto usang itu menggambarkan keakraban mereka, terlihat putra ketigaku, duduk bersila diatas kedua paha adik dan kakaknya. Walau kulitnya yang paling gelap diantara mereka, tetapi ia pula yang memiliki senyum paling manis.

Jika ia membutuhkan sesuatu, maka cukuplah ia datang kepadaku, duduk manis sambil memamerkan giginya yang putih. Ia tidak menyebutkan keperluannya, ia hanya senyum-senyum menunggu aku ataupun bapaknya bertanya apa keperluannya. Ia sangat pandai merayu kami, tetapi ia juga yang paling keras kepala. Setiap keinginannya akan ia perjuangkan hingga ia berhasil  mencapainya.

Suatu waktu, aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Sebelum ke tempatnya mengaji ia memakai celana berlapis-lapis, lalu aku bertanya.
“Kenapa memakai celana seperti itu, Fauzi?”
“Bacaan al Qur’anku belum sempurna ma...” jawabnya.
“Apa hubungannya bacaanmu yang belum sempurna dengan celana berlapis-lapis itu” tanyaku heran.
“Supaya, kalau guruku mencubit pahaku, maka yang dia cubit itu celanaku” jawabnya sambil terkekeh-kekeh.
Ah, si Fauzi ini memang banyak akalnya.

Dalam foto usang itu, terselip muka putra ke-empatku  Dalam foto itu terlihat mukanya yang tegang tanpa senyum. Ah … ia memang begitu kala berfoto, mukanya selalu ditekuk.

Pribadinya sederhana, ia jarang marah. Ketika anak muda seusianya asyik dengan permainan game di warnet, dia malah  menghabiskan waktunya di TPA mengajar mengaji. Dia dipanggil ustaz oleh santri-santri ciliknya.

Katanya, cita-citanya sederhana.
“Aku hanya mau jadi mubalig, keliling kota ataupun keliling dunia menyampaikan risalah”. Katanya suatu waktu.
“Itu bukan cita-cita sederhana nak, butuh perjuangan dan usaha keras untuk mencapainya”. Jawabku.

Namun apapun cita-citamu selama itu baik bagi dirimu, bagi agama, maka mamamu ini akan selalu mendukungmu, mendoakanmu di setiap sujudku. 

Kembali kupandangi foto usang itu, tiada lagi rasa sendu. Senyumku mengembang tanpa kusadari. Kenangan masa kecil anak-anakku seakan menarikku ke dalam pusaran kebahagiaan.

Foto itu memang telah usang, namun kenangannya tak pernah pudar, akan terus melekat dalam ingatan, bahwa di masa lalu kalian pernah mengisi hari-hariku dengan celoteh-celoteh masa kecilmu.

Kalian telah memaksaku untuk mempelajari berbagai hal. Belajar bersabar kala kalian bertingkah terlalu lincah, belajar menahan kesedihan disaat kalian kecewa, belajar mengatur keuangan pada saat kebutuhan keluarga semakin meningkat.

Maka, teruslah bertumbuh dan berkembang, tentukan masa depanmu dengan langkah yang tegak, hadapilah dunia dengan jiwa yang tegar dan selalu bersandar kepada Ilahi. Karena  kami, orang tuamu akan tiba di penghujung waktu.

Dan jika masa itu tiba, kalian akan menggantikan posisi kami sebagai orang tua. Maka jadilah orang tua yang lebih baik dari orang tuamu. 


0 komentar:

Posting Komentar