Selasa, 25 Oktober 2016

AKU IRI, YA, AKU IRI!

Ketika teman-teman guru ramai-ramai melanjutkan pendidikannya ke S2 aku tidak melakukannya, aku jelas iri.
Lalu aku berbisik kepada suami yang kebetulan seprofesi dengan aku.
“ Pak..kenapa mereka bisa yah sedangkan kita tidak bisa”
“ Mereka bisa karena usia mereka masih muda, punya uang dan punya waktu”. Jawab suami aku lesu
“Iyah..yah” ikutan lesu

Aku iri pada yang muda, mereka punya uang dan waktu untuk sekolah lagi, tidak dengan aku!
Rasa iri telah menggerogoti semangat!
Sejak hari itu semangat berganti rasa lesu
Di rumah dan di sekolah tidak bergairah
Semangat telah pergi entah kemana...

Semangat semakin hilang ketikan teman-teman bercerita tentang kehebohannya di kampus, keseruannya mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Mereka berkumpul di sudut kantor membahas tugas dengan serius. Mereka tertawa saat menemukan jawaban dan gembira bersama. Aku semakin iri!

Sebutan baru muncul, mereka terlihat istimewa.
Teman guru lain menyapa mereka dengan sebutan bapak ibu guru mahasiswa.
Kepala sekolah memberi kelonggaran jam mengajar, boleh tinggalkan kelas asal sekolah lagi.

Aaaah, aku semakin iri!
Iri aku meradang hingga ujung jari!
Aku cemburu!
Aku cemburu bukan karena takut tersaingi. Sungguh!
Aku cemburu karena mereka bisa belajar aku tidak!
Aku ingin belajar, ingin menambah ilmu, ingin merasakan lagi keseruan belajar di kampus.
Tapi ...
Apa daya tanganku tak sampai!

Tetiba..
Seorang teman memberi informasi tentang pendaftaran baru yang akan dibuka, cukup bayar Rp. 400.000 untuk biaya formulir.
“Bu..sertifikasi kan mau cair, daftar saja dulu” kata teman aku
“Tapi bersamaan dengan pembayaran kuliah anak-anak aku bu..terus apakah aku bisa lulus?”
“Coba saja  dulu” kata teman aku menyemangati

Semangat aku tetiba datang menghadang!
Suami mengizinkan!
Dan semangat aku meluap!
Hari pertama menginjakkan kaki di kampus rasanya bagaikan terbang ke awan
Saking senangnya sampai-sampai aku lupa kalau aku belum terdaftar. Tak apalah setidaknya ini awal yang baik.

Setelah melewati berbagai rintangan, belajar bersama dengan teman-teman yang usianya jauh lebih muda, tinggal di kampus sampai malam meninggalkan suami dan anak-anak dan dengan dana seadanya.

Begitu banyak waktu yang dilewati, malam-malam di mana tidak bisa lagi melayani suami untuk bercengkrama karena harus konsentrasi belajar mempersiapkan ujian demi ujian, siang hari berjuang menyiasati waktu agar antara tugas mengajar dan tugas kuliah tidak terbengkalai dan yang terpenting tugas utama sebagai ibu rumah tangga dengan lima anak juga tetap dilaksanakan dengan baik.

Hingga akhirnya tibalah di penghujung perkuliahan.
 Kembali merasakan sensasinya perjuangan. Memburu pembimbing untuk konsultasi proposal hingga tesis, ujian terbuka hingga ujian tertutup.

Kadang terasa penat namun itu tidak menyurutkan semangat untuk terus belajar.
Aku begitu bersemangat di awal dan di akhir belajar. Atas izin Allah SWT, aku dapat menyelesaikan S2  dalam waktu yang cukup singkat bahkan dengan predikat comlaude.

Keinginan belajar telah menumbuhkan harapan besar dan perjuangan tanpa batas. Melanjutkan sekolah dalam keadaan krisis ekonomi keluarga tidak mudah, tapi aku bisa melakukannya!

Ya, aku iri pada mereka yang belajar lebih dulu, rasa iri ini yang membuat aku nekad melakukan hal yang sama_nekad untuk belajar.

Rasa iri tidak selalu negatif bukan?




9 komentar:

  1. Akh iri juga, iri pengen bisa nulis semengalir ini. Salam kenal mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak, terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
    2. Salam kenal juga mbak, terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  2. Iri yang membangun semangat. Jadi iri juga rasanya. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yok...kita mensosialisasikan iri yang menginspirasi, terima kasih ya atas kunjungannya

      Hapus
    2. Yok...kita mensosialisasikan iri yang menginspirasi, terima kasih ya atas kunjungannya

      Hapus
  3. Iri yang membangun semangat. Jadi iri juga rasanya.

    BalasHapus
  4. Hai Kak .. akhirnya saling tahu usia ya hahaha

    Utk belajar menulis, tidak ada kata terlambat. Saya dan banyak teman blogger, punya Bunda di dunia blogging yang senang memanggil blogger2 sebagai "anak-anak dunia mayanya", nama beliau bunda Yati, usianya sudah 77 tahun. Beliau baru mulai ngeblog 5 tahun lalu. Kalo Kak Marda browsing, cari nama Bunda Yati, ada blog beliau, Kak.

    Kalau mau ki' bergabung denga komunitas2 blogger, inbox saja saya Kak, nanti saya kenalkan ki' dengan komunitas2 blogger di sini dan komunitas2 lain yang asyik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih adinda memang ini dunia yg sudah lama kurindukan berhubung karena sesuatu dan lain hal maka ahak telat tetapi seperti yn adinda katakan tidak ada kata terlambat kan?

      Hapus